Seperti biasanya aku menjalani rutinitas
harianku, merangkai berbagai rasa menjadi tetap indah meski tak selamanya rasa
yang tersampaikan indah. Merawat dan menjaga setiap rasa agar tetap tumbuh
sebagaimana mestinya. Dengan segala keunikan serta berbagai warna yang menghiasinya.
Layaknya hal yang patut kau banggakan. Karena dia selalu bisa mewakili apa yang
ada di dalam hatimu.
Seorang nenek tua baru saja keluar dari
tokoku, ia memilih bunga amarilis untuk cucunya yang hari ini telah lulus dari
sekolah tingkat pertama. Sekitar satu jam berada dalam tokoku, sembari menanti
aku merangkaikan bunga pilihannya. Beliau menceritakan bagaimana perasaannya
pada hari ini. Wajahnya menampakkan rasa bangganya. Hal itu pulalah yang ingin
aku tampilkan pada rangkaianku kali ini. Sebuah rasa bangga dari sang nenek
untuk cucunya.
Aku mengantarkan beliau keluar dari tokoku,
dengan tersenyum indah dan berterima kasih berulang kali.
“Terima kasih nak, buket
bunga yang telah kau rangkaikan sungguh indah. Nenek yakin cucu nenek akan
menyukainya.” ucapnya
sambil tersenyum
“Aku senang jika nenek
menyukainya, semoga cucu nenek merasakan perasaan yang ingin nenek sampaikan.” jawabku pada sang nenek.
Aku kembali masuk ke dalam toko,
melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda. Merangkai buket bunga mawar putih yang
amat indah. Bunga yang mewakili perasaan dalam hatiku. Perasaan yang telah
hadir selama tujuh tahun namun harus kuakhiri esok. Meski segala apa yang ada
padaku menolak keputusan tersebut tapi kenyataan yang akan terjadi esok tetaplah
tak bisa dirubah. Aku berniat menyerahkan buket ini esok disaat hari terbahagianya.
Tak berselang lama bel diatas pintu
berbunyi. Tanda ada yang masuk ke dalam tokoku. Saat aku melihatnya aku
tersenyum indah. Dia adalah malaikat duniaku. Dia adalah pelindungku, lentera
kehidupanku. Dia adalah Biungku. Panggilanku kepada ibu yang telah
melahirkanku.
“Hai Biung, tumben
siang-siang udah main kesini.” sapaku
“Memang kamu gak mau kalo Biung
datang siang-siang? Ayo kamu sembunyiin sesuatu yah?” Biung menatapku tajam.
Aku tahu Biung hanya bercanda, beginilah hubungan keluarga kami, sungguh
hangat.
“Biung cuma mau ngingetin
kamu, besok pokonya kalo bisa gak usah datang, gak perlu datang, meskipun kamu
pengen pokonya gak usah lah, kamu harus nolak.” cecar Biungku panjang
“Hahaha..” aku
paksakan untuk tertawa hambar. Aku sangat mengerti apa maksud Biung. Hari esok
memanglah suatu kenyataan pahit. “Tenang Biung, Embun tau kok jalan mana yang baik untuk
Embun ambil.” jawabku
penuh keteguhan.
Yah, namaku Embun. Sebening Embun. Entah
mengapa orang tuaku memilihkan nama yang lebih cocok untuk dijadikan sebuah
kalimat itu. Tapi aku begitu menyukainya. Aku merupakan anak tunggal. Terlahir
dari keluarga yang sederhana. Dibesarkan dengan penuh cinta.
“Oh iya, Biung juga
disuruh Baba, tanya kapan kita akan ke makam Appa? Baba bilang tiga hari lagi
Baba bisa pergi.”
“Embun ikut aja, Biung.”
Aku menatap heran pada Biung, “Biung, kok Baba tuh baik banget, mau gitu yah ngingetin
istri sama anak tirinya buat pergi ke makam mantan suami istrinya sendiri.” ujarku
sambil geleng-geleng kepala
“Beruntung kan Biungmu ini
dapet pengganti Appa yang sama baiknya.” ujar Biung sombong
“Hahaha mulai deh sifat
aslinya keluar. Sombong. Hahaha.” aku dan biung tertawa-tawa. “Embun bahagia banget Baba
sayang Biung dan anggep Embun anaknya sendiri. Sikap Baba kadang buat Embun lupa
kalo Embun cuma anak tirinya.”lanjutku dengan senyuman
Biung mendekat padaku, memeluk tubuhku
seraya mengusap kepalaku. “Embun anak Biung, Appa, dan juga Baba. Selamanya selalu
kaya gitu.”
Biung mengecup keningku. Dan kami kembali tertawa.
Aku kembali menyelesaikan rangkaian bunga
mawar putih yang lagi-lagi harus tertunda. Biung jalan berkeliling. Memeriksa
beberapa bunga dan tanaman hias yang berada di rak-rak toko.
“Kamu bener-bener mirip
Appa.”ujar
Biung tiba-tiba
“Karena Appa juga suka
bunga?”aku
sudah tahu itu
“Tepat.”
Biung menajamkan matanya tanda dia sangat-sangat setuju, “Biung
udah ceritakan, Appamu itu hobi sekali mengoleksi bunga. Dulu halaman rumah
kita dipenuhi dengan berbagai macam jenis tanaman…”belum selesai dengan
kalimatnya, aku memotong dan melanjutkan
“Appa selalu bilang kalo
bunga itu seperti hati manusia. Ia mewakili rasa yang ada di dunia ini. Gitu
kan lanjutan cerita Biung? Hahaha” Aku sudah hafal sekali dengan semua kalimat ini, karena
Biung sudah sering mengulangnya.
“Dasar bocah nakal,
seenaknya saja memotong omongan orang tua.”Biung tersenyum padaku.
Inilah kisahku. Kisah yang memilukan ku
rasa. Bukan tentang aku yang mempunyai seorang ayah tiri. Kisah ini jauh dari
alasan tersebut. Bunga yang memiliki makna kesedihanpun dia selalu bermekaran
dengan indah. Begitupula yang aku harapkan dengan diriku. Meski rasa yang ada
dalam hatiku begitu menyesakkan, namun aku ingin semuanya melihatku tetap bahagia.
Saat aku bertemu dengannya, berkenalan,
hingga akhirnya berjanji untuk saling membahagiakan. Apa yang salah dari
rencana tersebut? Dimana letak kekeliruannya hingga bahagia bisa terenggut dari
hidupku. Pada awalnya aku tak menyadari perubahan apa yang terjadi padanya. Dia
selalu menghindar jika aku memintanya bertemu. Sedikit demi sedikit pesan dan
teleponku dia abaikan. Dan pada akhirnya di hari tepat ketujuhtahunnya hubungan
kami, dia meminta untuk bertemu. Dia menyodorkan sebuah kertas berwarna kuning
keemasan. Begitu kubuka, yang pertama kali terbaca olehku adalah namanya.
Tanganku seketika lemas. Kertas itu langsung kututup tanpa kubaca nama selanjutnya.
Sampai saat ini aku tak tahu nama wanita beruntung itu.
Hari demi hari aku menata hatiku untuk
berhasil melewati hari esok. Hari penuh suka cita namun menenggelamkan
kesedihan hanya padaku. Isak tangis dan beberapa kepiluan sudah menemani tiap
malamku. Membuatku kadang termangu dan terpekur, apakah hidup begitu
membenciku?
Biung menyalakan televisi, acara infotainment,
berita terbaru artis yang tengah naik daun. Tentu saja Biung menjadi salah satu
dari penggemar serialnya.
“Berita
kali ini datang dari artis yang sedang banyak digandrungi masyarakat. Siapa
lagi kalau bukan Jagat. Baru-baru ini netizen berhasil menangkap kemesraan
Jagat dengan lawan mainnya dalam serial. Jagat sangat tertutup mengenai
kehidupan pribadinya. Namun banyak tersiar kabar bahwa ia berasal dari keluarga
yang sangat kaya raya. Dikabarkan Ayah Jagat merupakan pengusaha minyak yang
telah memiliki beberapa cabang..”
“Pantas saja dia bisa
menjadi terkenal, dukungannya sangat banyak.”celetuk Biung memotong
siaran infotainment itu.
“Namun
meskipun begitu, Jagat tak pernah menggunakan nama besar sang ayah untuk
menyokongnya di dunia hiburan ini. Dia berjuang dari bawah dengan kemampuan dia
sendiri..”
“Noh Biung jangan dulu
berburuk sangka.”
giliranku memotong sambil terkekeh.
Seperti sebulan yang lalu, Biung rutin
mengunjungiku sembari menguatkanku bahwa hidup bukan membenciku melainkan
sangat mencintaiku. Maka inilah yang terjadi. Karena kehidupan amat
mencintaiku. Dan begitu pula dengan tujuannya hari ini. Biung datang
mengunjungiku, lagi-lagi mengingatkanku menguatkanku dan segala macam
tektekbengeknya.
“Biung tau kamu pasti
bisa, kamu pasti mampu.”Biung kembali membahas pokok utama alasannya menemuiku.
Bel itu berbunyi lagi, ada seseorang
memasuki tokoku kembali. Belum sempat aku melihatnya, tubuhnya tertutup oleh
rak bunga yang tegak berdiri memisahkan ruang merangkaiku dengan pintu masuk, namun
aku harus sekali lagi menegaskan bahwa aku baik-baik saja pada Biungku.
“Iya dong Biung, Embun
pasti bisa.”jawabku
menenangkannya dan tak lupa memberikan senyum yang tak kalah indah dari
miliknya.
“Baiklah kalo gitu Biung
pulang dulu yah, lagian kayanya kamu kedatangan pelanggan.”
Biungku berjalan keluar menuju rak yang
memisahkan itu, aku memenemani langkahnya dan alangkah terkejutnya kami, yang
berdiri memandang kami adalah seorang public figure, seseorang yang akhir-akhir
ini merajai semua stasiun televisi, setiap ku nyalakan televisi, wajah dia yang
selalu muncul menghias layar kaca. Wajah dia pula yang baru saja kami lihat di televisi.
***
Derap langkah kaki begitu kental terdengar,
begitu pula langkah kakiku sendiri. Alunan merdu dari angin semilir juga
terdengar begitu nyaring menemani. Cuaca sangat indah hari ini. Mataharipun tak
ingin membakar dengan kejam, ia menyembunyikan sebagian tubuhnya dibalik awan
agar tetap menghangatkan namun tak menyengat.
Entah berapa toko yang sudah dilalui. Dan
orang disampingku masih juga bergulat dengan kata-kata yang begitu sungguh luar
biasa belum juga selesai. Aku bisa membayangkan mulutnya berbudah karena
kapasitasnya kali ini sudah melebihi kemampuan kerjanya. Aku tak habis pikir
dia masih saja terus bisa mengeluarkan suara.
“Jadi, kapan aku harus
melakukannya?”potongku,
karena aku yakin ia tak akan berhenti berbicara sebelum aku bersedia
menerimanya.
“Sebentar-sebentar, kamu
mau nih ceritanya? Kamu menerima tawaranku? Sungguh?”Tanyanya dengan mata
berbinar-binar.
“Empat tahun yang lalu kau
juga membantuku, kau dan Kakak menemani hari-hari terberatku saat aku masih
jadi artis pendatang baru, mendaftarkan aku ke segala macam agensi, rela
mondar-mandir mengikuti casting, pergi pagi pulang malem. Jadi yah kalo untuk sekedar
foto apa susahnya untukku.”
Siapa dulu yang mengenalku. Arka Jagatnata.
Meskipun namaku sangat unik. Arka dalam bahasa sangsekerta berarti menuju
matahari sedangkan jagat merupakan tempat dimana kita bernaung. Atau bisa
dibilang menuju matahari dunia yang tertata. Tapi tetap saja tak banyak orang
yang tau tentang diriku. Baru setengah tahun ini orang-orang mulai mengenalku. Sibuk
membicarakanku. Wajahkupun sering muncul menghiasi layar kaya televisi.. Untung
hari ini aku melakukan penyamaran, agar orang tak mengenaliku.
Tentu mereka juga hapal aku berasal dari
keluarga seperti apa. Dengan seorang ibu yang sangat super sosialita juga
shopaholic yang berpasangan dengan ayah yang terlahir kaya raya. Meskipun identitas
orang tuaku tidak mereka ketahui. Dapat dipastikan aku hidup tak kekurangan
apapun. Namun ada lagi yang tak orang lain ketahui tentangku. Aku sendiri baru
mengetahuinya dua minggu yang lalu bahwa aku bukan anak dari orang yang selama
ini aku anggap ayah.
“Wah ternyata pertemuan
empat tahun yang lalu itu benar-benar membekas sekali untukmu. Siapa yang
mengira artis figuran sepertimu bisa sangat bersinar sekarang. Dan siapa yang
kira gagal menjadi artis malah membuatmu lebih bahagia hahaha, untung Kakak
bertemu denganmu. Jadi setelah ia gagal, ia malah bisa jadi manajermu hahahaha.” Andrian
terkekeh.
Kami masih saja menyusuri deretan toko
tersebut. Hingga akhirnya aku melihat seorang wanita tersenyum manis dengan
bibir tipisnya yang merah, semanis cuaca hari ini, semanis tiupan angin saat
ini, semanis kata-kata yang terucap dari temanku ini, semanis derap langkah
yang ku dengar ini.
Rambut hitamnya ia ikat sembarang ke atas.
Sinar matahari menyentuh kulit sawo matangnya dengan lembut. Badannya yang
proposional membuat sinar matahari itu tak mampu menyentuh orang yang sedang
dipapahnya. Oh aku tak bisa mengalihkan mataku dari pandangan yang amat
menyilaukan tersebut. Ia mampu memudarkan gambaran-gambaran disekelilingnya.
Ataukah mataku saja yang terlalu terarah padanya sehingga orang yang begitu
amat banyaknya berlalu lalang disampingnya, tak ayal bagaikan pemeran figuran
disebuah serial yang menayangkan wanita itu sebagai pemeran utamanya.
Duh sebenarnya apa yang tengah aku
pikirkan. Kalimat yang begitu mengalir dari mulut Andrian menjadi sama sekali
tak terdengar. Atau lebih tepatnya dari awal aku memang tak berniat
mendengarkannya. Dan wanita itu begitu lembutnya memapah seorang nenek tua yang
sedang memeluk seikat bunga. Mereka sepertinya tengah berbicara sesuatu yang
amat menyenangkan. Karena ku lihat mereka saling bertukar senyuman.
Ku lihat wanita itu masuk menuju salah satu
toko. Ketika aku sudah dekat dengan toko tersebut ku liat nama yang terpapang
di kacanya. Ku Ramo. Seperti bahasa Jepang. Ternyata toko yang dimasuki wanita
itu adalah toko bunga.
“Gat, kenapa kamu berenti
disini?” tanya
Andrian aneh karena aku berhenti dengan tiba-tiba
“Aku mau masuk.” jawabku
singkat
“Mau ngapain? Hey jawab
aku”
Belum sempat ku jawab pertanyaan Andrian,
ku genggang erat gagang pintu tersebut, dan mendorongnya sekuat rasa penasaran
yang berkecamuk dalam diriku. Kemudian suara bel terdengar. Aku melihat
sekeliling, Penuh dengan bunga beraneka warna dan bentuk, sangat indah. Andrian
mengikutiku dari belakang. Aku mencari wanita itu. Wanita dengan senyumnya yang
manis.
Tak sengaja ku dengar sebuah percakapan.
“Kamu pasti mampu.”
Siapakah itu? Aku berjalan lebih dalam, namun
sebuah rak menghalangi ku, aku mencoba mengintip dari balik celah-celah yang
memisahkan pot-pot bunga indah. Ku buka kacamata hitam dan topi yang sedari
tadi menyembunyikan wajahku. Itu dia, aku dapat melihatnya. Seorang wanita
dengan senyum manis. Itu dia sedang berdiri menghadapku.
Wanita tersebut kemudian menjawab perkataan
orang didepannya.
“Embun pasti bisa.”
Embun?
Kalimatkah? Atau nama dia? Embun? Pikiranku melayang, namanya sangat
mencerminkan dirinya. Embun. Ah sungguh nama yang indah. Andrian menepuk pundakku.
Dia memecahkan imajinasi indahku. Sungguh menyebalkan.
“Kau sedang apa?” telusurnya,
“Jangan bilang kau
menguping.”ancamnya
“Enak saja.” jawab
ku kesal.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar semakin mendekat
ke arah kami. Dua orang berdiri dihadapanku. Menatapku dengan wajah curiga.
Tentu saja mereka akan curiga. Yang ku lakukan beberapa saat tadi adalah tindakan
criminal. Aku menguping. Bagaimana ini, mereka menatap tajam ke arahku.
Begitupula wanita dengan senyum manis tadi. Mata hitamnya seolah menjeratku.
Meminta penjelasan atas tindakan bodohku. Dan aku semakin membisu.
***
Aku termangu, sungguh tak kuduga akan
bertemu artis yang tengah naik daun itu. Dia berdiri tepat dihadapanku.
Tubuhnya menjulang tinggi, berpakaian sangat stylish, dengan segala macam merek
terkenal menempel pada kulit coklatnya yang menggoda, terutama kemeja yang
tengah ia pakai, memperlihatkan sangat jelas dadanya yang bidang, tak lupa pula
fakta bahwa wajahnya yang eyecatching.
Ku lirik Biungku sesaat, dia sama
tertegunnya denganku. Waktu seakan berenti, bukan karena aku mengaguminya,
seperti semua fans fanatic dia yang rela menanti di depan rumahnya, mendatangi
setiap lokasi syutingnya. Oh sungguh aku bukan bagian dari mereka. Tapi keadaan
ini terlalu mendukung sehingga menciptakan nuansa yang tak kalah indah dari
bunga-bunga yang bertebaran sekitar kami.
Namun aku harus sadar, bagaimanapun dia
adalah pelanggan. Ku tarik semua suasana indah tersebut. Perlahan ku kerdipkan
mata yang sedari tadi memandangnya kagum. Berupaya kembali menjadi seorang
florist yang handal. Ku coba menjadi diriku yang biasanya, yang bahagia
menerima pelanggan.
“Selamat datang.”
sapaku dengan senyuman, ku harap dia tak keberatan atas tindakan melototku
tadi.
Kalimatku menyadarkan Biung dari rasa
tegunnya. Ia kemudian berpamitan padaku dan berjalan keluar toko sambil masih
terus memandang kami. Aku yakin Biung akan menyuguhkan ribuan daftar pertanyaan
tentang artis ini nanti malam saat aku telah menutup toko.
“Halo Kak, mau cari rasa
yang seperti apa?” tanyaku.
Aku baru menyadari ternyata yang datang dua orang. Padahal orang disampingnya
itu tak kalah stylish darinya, tapi aku malah baru menyadari kehadirannya
sekarang.
Kemudian suara dering telepon terdengar.
Pria yang berdiri disamping Jagat, begitulah kami –masyarakat umum- mengenal
namanya, mengangkat telepon yang berada disakunya. Dia berjalan menjauhi kami
berdua.
“Mau cari rasa apa Kak?” tanyaku
lagi
Jagat yang sedang memandang kearah lelaki
yang mengangkat telpon itupun langsung memalingkan wajahnya kearahku.
“I..iya apa?” jawab Jagat tergagap
Aku tak bisa mengerti mengapa dia tergagap,
harusnya aku yang tergagap dalam kondisi saat ini, tapi mungkin dia terlalu
konsentrasi melihat lelaki satunya lagi.
“Saya tanya Kakak mau cari
rasa yang seperti apa?” tanyaku ketiga kalinya.
“Rasa? Bukankah ini toko
bunga?” sebuah
tanda tanya sungguh terpapang jelas di wajahnya.
“Iya Kak, setiap bunga itu
mewakili rasa. Ada rasa kagum, rasa kecewa, bahagia, sedih, kasih sayang,
persahabatan, suci, murni dan tentu saja masih banyak yang lainnya.” jelas ku seperti biasanya pada setiap
pelanggan. “Tanpa kita sadari, setiap orang yang kita temui selalu
kita berikan satu rasa pada hati kita. Jika Kakak mengingat orang itu, pasti
rasa yang sama muncul. Dan ketika Kakak ingin memberinya bunga, akan selalu ada
bunga yang bisa mewakili rasa itu”
“Wah aku baru tau ternyata
bunga punya peran yang penting, mereka menjadi perwakilan rasa.”
jawabnya terkesan.
“Tentu saja Kak, mereka
bermekaran untuk mengisi setiap kata yang mungkin sulit untuk diungkapkan,
setiap tingkah yang mungkin sulit digambarkan.” aku memandanginya
sesaat, “jadi rasa seperti apa
yang Kakak inginkan?”
Jagat mengedarkan pandangannya ke seluruh
sudut tokoku. Mungkin ia sedang mencari bunga yang cocok untuk menggambarkan
suasana hatinya. Lelaki yang tadi mengangkat telpon kembali mendekati Jagat.
“Gat aku harus kembali ke
toko, ada yang sedang menungguku disana.”ucapnya
“Okay kamu duluan aja.”
jawab Jagat
“Bener nih gak apa-apa aku
tinggal?”
“Iya gak apa-apa, aku tau
jalan ke rumahku sendiri.”
Lelaki itu terkekeh mendengar jawaban dari
Jagat, “Aku
hanya merasa tak enak jika aku meninggalkanmu seperti ini.”
“Oh yang benar saja. Cepatlah
kau pergi, nanti yang menunggumu sudah tak disana lagi.” ucap Jagat sembari
menggoyangkan dagunya.
“Sorry yah, sekali lagi
sorry.”
Suara bel terdengar, lelaki itu telah
meninggalkan kami berdua. Aku masih menunggu Jagat memberikan jawaban. Tapi
sepertinya dia tak memiliki jawaban yang dicari-cari. Aku mencoba untuk
membantunya.
“Kakak ingin memberikan
bunga untuk siapa?” aku
berusaha membantu, “Pacar
Kakak?”
Aku mengingat acara infotainment tadi yang menayangkan kemesraan dia, “Sodara
Kakak?” aku
mencari kemungkinan lain, “Ibu Kakak?”, tampak ia masih terus berusaha berpikir. Kepalanya
menunduk, tiba-tiba dia berseru.
***
Wanita ini terus memandangiku, dia membuat
ku tak bisa berkutik. Mata hitamnya seakan menguliti, mencari tau apa yang ada
di dasar hatiku. Belum lama ini Andrian meninggalkan kami berdua. Mungkin
memang itulah yang aku harapkan. Hanya ada aku dan dia.
Untunglah pemikiranku salah, dia tidak
mencurigai apa yang sudah aku lakukan. Buktinya dia tak bertanya macam-macam
pada tindakanku tersebut. Semoga saja dia tidak melihatnya.
Ku kira dia hanyalah seorang pengunjung
toko bunga, ternyata dia yang mempunyai toko ini. Pertanyaan pertama yang
terlontar dari bibir indahnya membuatku tertegun. Apakah kau juga berpikir
sepertiku? Bunga mewakili setiap rasa. Dan satu hal juga yang ku ketahui
tentang wanita dengan senyum manis ini, dia tak henti-hentinya berbicara.
Setelah ku dengar kata embun, yang aku
sendiri masih merasa bingung apakah kata embun itu merujuk untuk nama si wanita
dengan senyum manis ataukah bukan. Tapi biarlah aku anggap dia sebagai embun.
Embun untukku. Yah kata Embun cocok
dengan wanita itu. Sikapnya yang ramah, dengan senyum manis yang tak pernah
hilang dari wajahnya. Dan lagi-lagi mata hitam itu masih memandangiku. Aku
menunduk mencoba berpikir keras, entah mengapa aku ingin membuatnya merasa
kagum kepadaku, merasa simpati kepadaku.
“Iya, ibuku.”jawabku
penuh dengan ide, aku yakin apabila bunga ini aku belikan untuk ibu, dia pasti
berpikir aku amatlah menyayangi dan menghormati seorang wanita. Aku tau
sebagian besar wanita menyukai lelaki yang menghormati ibunya. Aku tertawa
dalam hati. Aku yakin dia akan segera terpikat olehku.
“Wah sungguh romantis
sekali.”jawab
Embun
Dugaanku sepertinya tepat, dia terkesan
dengan jawabanku.
“Benarkah?”tanyaku
pura-pura polos.
“Tentu saja, lelaki yang
menyayangi ibunya tak diragukan lagi bahwa iapun akan menyayangi wanitanya.”Embun
menjawab seraya jalan berkeliling.
“Yah.. sepertinya aku
memang pribadi yang seperti itu.”Senyum tak bisa kuhindari, aku mengikuti langkahnya dari
belakang.
Dia memilihkan beberapa tangkai bunga, dia
mengambil beberapa helai daun, kemudian melangkah menuju ruang yang ku anggap
itu sebagai tempat ia merangkai bunga. Disana terdapat beberapa alat yang aku
tak terlalu paham itu apa, hanya gunting, pita, lem tembak saja yang ku tahu,
selebihnya aku tak mengatahui itu apa.
Kemudian mataku terpaku pada satu buket
bunga belum selesai dikerjakan. Namun meskipun begitu, aku harus katakan bahwa
buket itu sangat indah, bunga mawar putih mendominasi, dan wangi semerbak dari
buket itu dapat aku cium meskipun bunganya tak begitu dekat dengan hidungku,
bunga mawar itu tersusun sangat rapi, bentuk yang diinginkan sepertinya belum
terbentuk sempurna, tapi tidak menutup keindahan dari buket tersebut.
“Buketnya sangat indah.”ujarku
jujur memuji buket yang ia kerjakan.
“Emm..”
Ku lihat Embun sedikit terkejut dengan
kalimatku. Ia mendorong perlahan buket mawar putih tersebut menjauh dari meja
kerjanya. Kemudian dia tersenyum padaku seraya berkata,
“Mari kita mulai.”
Hal ini sungguh mengganggu, ada apakah
dengan buket tersebut, aku yakin wajahnya berubah ketika mendengar kalimatku,
meskipun hanya beberapa detik, tapi raut wajah tersebut sungguh jelas berbeda,
seperti ada rasa pedih. Tapi aku tak bisa mengungkapkan rasa penasaranku ini.
Aku tak mungkin mengusik kehidupan pribadinya dihari pertama kami bertemu.
Ku pandangi Embun dengan seksama. Dia
begitu telaten merangkaikan bunga untuk ibuku. Sepertinya dia memang sangat
menikmati saat merangkainya ini. Karna senyuman itu terus bertengger menghiasi
wajahnya yang teduh.
“Oh tunggu, kau tau siapa
aku kan?” betapa bodohnya, aku baru menyadari dia belum
sekalipun terkagum-kagum bertemu denganku, apa sungguh Embun tidak mengetahui
bahwa aku Jagat. Arka Jagatnata. Publik figure yang terkenal. Bukannya berniat
untuk membanggakan diri, tapi hampir setiap aku pergi tanpa penyamaran
orang-orang berlarian meminta berfoto denganku, berusaha menyentuhku,
berseru-seru memanggil namaku. Dan lihat ini, Embun tidak melakukan apapun dari
salah satunya.
“Tentu saja aku tau.” jawabnya
dengan tersenyum lebar. “Bagaimana
mungkin aku tidak mengenali seorang artis yang menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir
ini.”
Dadaku mengembang mendengar ucapannya,
senyum tak bisa ku tutupi dari wajahku.
“Nama Kakak, Jagat kan? Biungku,
maksudnya ibuku, sangat menyukai Kakak, dia sering melihat serialmu. Kau ingat
wanita yang tadi ada bersamaku. Itu Biungku.”jelasnya melanjutkan.
Ternyata Embun memang senang berbicara panjang lebar.
“Bagaimana denganmu? Apa
kau juga menontonnya?”apalagi ini yang keluar dari mulutku? Tidak, tidak bisa
ku kendalikan bibirku, kalimat itu meluncur begitu saja tanpa di acc oleh
otakku.
Embun Nampak berpikir sesaat.
“Hmm…
Aku bekerja dari pagi hingga sore hari, di malam hari aku sibuk mencari
insipirasi.”
lalu Embun melanjutkan kalimatnya, “Tapi Biungku terkadang menceritakan beberapa bagian yang
dia anggap menyentuh hatinya.” jawab Embun sambil tersenyum, mencoba tak membuatku
kecewa.
Hening sesaat, Embun konsentrasi
menyelesaikan rangkaiannya.
“Agak sepi bukan?”
Embun melirikku. Aku hanya menatapnya tak mengerti.
“Sebenarnya hari ini
terasa kurang sempurna, radio tua peninggalan almarhum Appa sedang diperbaiki.”
Lanjutnya menjelaskan, “Biasanya alunan lagu dari radio tersebut selalu menemani
tiap kali aku merangkai bunga. Lagu yang mengiringi tak tahu mengapa selalu
memberikan aku inspirasi untuk membuat rangkaian seperti apa.”
Dia menghela nafas, berhenti sejenak dari aktivitasnya. “Dan tentu saja karena radio tua tersebut selalu
mengingatkan aku pada almarhum Appa yang amat aku kagumi, sosok pribadi yang
tegas dan penyayang. Figurnya tak akan bisa tergantikan oleh siapapun.”
dia mulai melanjutkan pekerjaannya, “Tapi Baba juga tak kalah
hebatnya.”Embun
melirikku sambil tersenyum.
“Siapa itu Appa dan Baba?”aku
tak sepenuhnya mengerti apa yang tengah Embun bicarakan.
“Hahaha apakah aku
lagi-lagi bercerita tanpa prolog?” tangannya masih telaten merangkai, “Appa
adalah ayah kandungku, sedangkan Baba adalah ayah tiriku.”
kemudian dia melanjutkan dengan cepat-cepat. “Oh tidak-tidak, aku
bahagia, jika kau berfikir ayah tiri itu kejam. Yah dalam kasusku berbeda, ayah
tiriku sangat baik.”
Pikiranku melayang, saat Embun berkata ayah
tirinya sangat baik. Aku teringat akan kenyataan yang baru aku ketahui, ayah
yang selama ini menyayangiku, mengajariku berbagai macam hal, menjagaku setiap
waktu, ternyata bukan ayah kandungku. Dia ayah tiriku. Ayah tiri yang sangat
baik. Sama seperti Embun.
“Kau memiliki panggilan
yang sangat unik kepada orang tuamu.” Ku coba mengendurkan
ketegangan yang aku alami sendiri.
“Ya begitulah.”Ucap
Embun mengangkat kedua bahunya.
“Ku kira ini pertemuan
pertama kita. Aku tak menyangka kamu akan berbicara tentang kehidupanmu pada
orang yang pertama kali kamu temui.”
“Hahaha kau benar, aku
sudah terlalu banyak berbicara.”
***
Jantungku berdegup hebat, tanganku membeku,
lidahku terasa kelu. Aku melupakan hal yang selama ini berkecamuk dalam jiwa. Dan
dia, Jagat, mengingatkanku kembali akan kenyataan pahit yang akan aku alami.
Tak kuasa menahan berat tubuh sendiri, rasanya aku bisa terkapar kapanpun.
Kenangan itu berkelebat dalam memori. Memaksa aku untuk selalu mengingat
pedihnya.
Aku berusaha bersikap sewajarnya, ku
alihkan buket mawar putih tersebut, jauh dari penglihatanku. Semoga dia tak
menangkap gelagat anehku ini.
“Oh tunggu, kau tau siapa
aku kan?”
Hah, aku mendesah dalam hati. Tak ku sangka
dia orang yang gila pujian. Tanpa dia bertanya seperti itupun tentu saja jelas
sekali sikap termanguku tadi sudah dapat menjelaskan aku tahu siapa dirinya.
Betapa inginnya dia mendengar langsung pujianku. Baiklah akan aku jawab sesuai
yang ku tau. Dan apalagi ini, dia bertanya apakah aku juga menonton serialnya?
Ya ampun, orang ini begitu butuhnya sebuah pujian. Sungguh wajahnya bisa
membohongi public, benar-benar tak diduga ternyata aslinya seperti ini.
Rangkaian bunga untuk ibu Jagat sebentar
lagi akan selesai, aku mengamatinya berkali-kali, khawatir ada bagian yang tak
nyaman dipandang. Setelah yakin rangkaiannya sempurna, ku ikatkan pita ungu
pada bagian bawah tangkai, ku sematkan penjepit berwarna kuning dengan
manik-manik ungu tua.
Aku tersenyum puas melihat rangkaian bunga
di hadapanku. Berharap sang penerimapun akan puas dan mengerti rasa yang akan
disampaikan bunga tersebut padanya. Akhirnya aku serahkan bunga itu pada Jagat
yang berdiri di depanku. Kami hanya dipisahkan oleh meja kerjaku.
“Ini, bagaimana menurutmu?”
tanyaku memandanginya
“Kau sungguh ahli.”jawabnya
sambil memutar-mutar buket tersebut. “Bunganya sangat indah,
terima kasih.”
Jagat memandangiku, dia menyunggingkan
senyum mematikannya. Inilah modal dia menjadi publik figure. Sebuah kemasan
yang tak memiliki keraguan. Sepertinya tak ada celah yang membiarkan kita untuk
mencelanya. Secara fisik dia sangat bisa dikatakan hampir sempurna. Dengan
lesung pipit dan sebuah tahi lalat yang bertengger di hidungnya yang mancung.
Menjadi ciri khas darinya. Membuat wajahnya sulit dilupakan.
Tapi ku ingat juga penilaian kepribadiannya
tadi saat ia bertanya padaku. Hah sungguh nilai minus untuk penunjang fisiknya
yang sudah mumpuni tersebut.
***
Ku rebahkan tubuhku di kasur yang selalu ku
rindukan, merelakan ototku mengendurkan ketegangan setelah seharian ku porsir
bekerja. Hening. Sepi. Gelap. Kamar tidurku yang hanya seukuran 4x4m ini memang
selalu nyaman. Menyuguhkan nuansa yang tentram.
Aku sengaja tidak tinggal dengan Biung dan
Baba. Ceritanya aku ingin bisa hidup secara mandiri walaupun rumah mereka dan
kontrakanku tak begitu terpaut jauh. Kami berbeda kota tapi jarak yang ditempuh
dapat dikatakan dekat. Cuma butuh waktu sekitar 3 jam dari rumahku menuju ke
kontrakan ini.
Butuh waktu setengah jam dari kontrakan menuju
tokoku. Jadi aku bisa menghemat lebih banyak waktu. Kontrakan ini tak dapat
dikatakan bagus dan tak bisa dimasukan kategori jelek. Menurutku ini ‘sesuai’.
Itulah kata yang tepat mewakili kotrakan yang ku tinggali saat ini.
Ku rogoh ponsel di dalam tasku. Jam sembilan malam. Dua belas jam lagi
penantianku berakhir. Buket mawar putih telah tersimpan rapi di atas meja
belajarku. Ku pandangi ia lekat-lekat. Berusaha mencari alasan yang tepat agar
aku bisa membuangnya.
Dadaku terasa sesak. Hatiku remuk redam tak
tertahan. Butiran itu kembali meluncur deras dipelupuk mata. Sakit. Sakit. Aku
muak dengan kenyataan ini.
Ku buka kotak yang tersimpan dibawah
ranjang. Ku liat satu persatu benda yang ada di dalamnya. Airmata menemani tiap
lehaan napasku. Seakan mereka saling mengetahui alasan betapa beratnya hal ini
untuk aku lakukan.
Berkali-kali helaan napas panjang
terdengar, penglihatan tak terlalu jelas sebab lampu masih padam, hanya
samar-samar terlihat sebuah album foto dengan ukuran sedang. Perlahan tersibak
berbagai foto dengan bermacam-macam mimik muka nampak di depanku. Hanya ada
satu wajah. Tentu saja wajah dia.
Dia yang memberi warna dalam hidupku. Cerah
sampai pekat. Dia yang sanggup membuatku tersenyum dan menangis. Dia pula yang
memberi aku alasan untuk hidup dan juga mati. Dia. Dia yang akan meninggalkanku
dua belas jam lagi.
Ku bawa semua isi dalam kotak itu keluar
kontrakan. Ku cari tempat sampah. Satu persatu ku pandangi sekali lagi. Dan
sekali lagi pula aku mendesah ke atas langit. Bisakah? Bisakah aku membuangnya?
Bisakah aku melupakannya?
***
“Kemana saja kau? Kenapa
teleponku tak ada satupun yang kau angkat.”omel Kakak, manajerku,
ketika aku baru masuk apartemenku. Aku langsung mengeluarkan ponselku dari
kantong celana.
“He.. Maaf aku lupa
ponselku masih dalam keadaan silent.”aku cuma bisa nyengir. “Kak
udah dari tadi nunggu yah?”tanyaku basa basi.
“Menurutmu?”Tanya
ia melotot, “Sudahlah
ayo cepat kita harus segera tiba di lokasi syuting.”
“Okay aku ganti pakai dulu
ya, Kak.”
Setelah berjalan empat langkah, baru ku sadari
buket yang ku pegang, bingung harus aku apakan. Akupun langsung membalikkan
badanku menghadap manajerku.
“Kak, ini.”ujarku
sembari mengulurkan buket itu padanya. “Anggap aja ini buat kamu,
Kak.”tawa
tak bisa ku sembunyikan
“Gat, kamu masih normalkan?”Tanya
dia merinding
“Hahaha ya Kak gitu amat
sama aku.”jawabku
dengan langkah semakin dipercepat
“Cepet yah, mereka gak
suka menunggu.”ujar
Kakak setengah berteriak karna aku sudah berada di dalam kamarku.
***
Syuting hari ini baru selesai, lelah sekali,
aku hanya mendapat istirahat 15 menit, kugunakan kesempatan berharga itu untuk
memejamkan mata, mengistirahatkan semua fungsi organ. Tak ingin menyia-nyiakan
begitu saja. Harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Langit masih belum dapat dikatakan terang.
Namun penggemarku sudah memenuhi lokasi syuting dari dini hari. Mereka terus
menerus memanggil namaku. Aku tak bercanda, tapi semangat mereka seolah menular
padaku. Lelah yang menggelayut perlahan memudar seiring teriakan dan tawa lebar
dari mereka.
Sebelum aku pulang, kusempatkan diri
menyapa mereka, tentu saja dengan diawasi oleh bebrapa orang pengawal, karna
terkadang mereka ‘lupa’
bahwa akupun manusia biasa. Dicubit, dipukul, dielu-elukan, ya tentu saja aku
merasakan sakitnya hahaha, kulitku juga sama seperti mereka. Sudah beberapa
kali aku berobat disebabkan kulitku yang memar-memar. Sungguh, bagaimanapun
mereka aku mengerti alasannya, apa yang mereka lakukan itu wajar. Alasan
kuatnya mungkin ‘terlalu
gemas’melihat
orang yang dikagumi berada didekatnya.
Sepanjang perjalanan aku memejamkan mataku
lagi, namun aku dikagetkan karena mobil tiba-tiba berhenti mendadak.
“Ada apa Kak?”tanyaku
setengah sadar
“Sorry, tadi ada kucing
lewat, aku jadi kaget dan langsung ngerem mendadak.”jelasnya
“Oh yaudah gak apa-apa.
Yang penting gak ada yang luka. Kita masih jauh Kak?”
“Lumayanlah, tidur lagi
aja dulu.”
Mobil kembali melaju. Secercah sinar
matahari masuk melalui celah jendela yang agak terbuka. Ku singkap jendelanya,
dan mengedarkan pandanganku keluar. Seperti aku mengenal tempat ini. Rasanya
aku pernah melewatinya. Ah iya ini deretan toko yang kemarin aku lalui.
Kebetulan aku ingin bertemu dengan Embun lagi.
Ku lirik jam ditanganku, masih jam delapan
pagi. Apakah tokonya sudah buka. Aku ragu toko bunga buka di jam yang sangat
pagi. Tapi taka da salahnya aku mencoba.
“Kak, di depan belok kanan
dong.”
“Loh, memang kita mau
kemana dulu?”
“Ke toko bunga Kak,
sebentar kok gak akan lama.”
Aku turun dari mobil, ku minta Kakak untuk
menunggu saja tak usah mengikutiku. Deretan toko itu, beberapa ada yang sudah
menjalankan bisnisnya namun ada juga yang masih tutup. Ketika aku sampai di
depan toko yang bertuliskan Ku Ramo, aku membaca papan dipintu. TUTUP.
Hah, aku menghela napas kecewa. Aku
berharap bisa menemui Embun hari ini. Tapi ternyata takdir berkata lain.
***
Beberapa menit lagi. Entah sudah berapa bis
yang melewati halte tempat aku menunggu. Aku sendiri masih bingung harus
melangkahkan kaki kemana. Tak ada satupun pilihan yang meneguhkan dan
menentramkan hatiku.
Toko bunga kubiarkan tutup hari ini. Hari
ini merupakan hari yang special, meski bukan untuk aku tepatnya. Ku rapikan
gaun yang kugunakan. Ku amati buket mawar putih yang tengah ku genggam. Sekali
lagi mencoba berkaca di depan layar ponsel. Menarik napas dalam-dalam kemudian
menghembuskannya.
Ponselku bergetar, alangkah terkejutnya
aku, hampir saja ponsel itu terbanting ke bawah. Biung. Begitu tulisan yang
terpapang jelas di layar. Sebelum diangkat, ku pejamkan mata berharap hari ini
hanyalah ilusi semata, ketika ku buka mata ternyata aku masih kanak-kanak,
bermain di sekolah tempat Biungku mengajar. Semoga seperti itu. Perlahan ku
buka mata. Dan hasilnya, ponsel itu masih tetap bergetar.
“Halo Biung..”
“Halo sayang, kamu lagi
apa? Perlu Biung temani?”
Aku mengerti bagaimana kekhawatiran Biungku,
begitupula aku, aku sendiri khawatir apa yang akan aku lakukan. Akankah aku
mengikuti kemauanku, kemauan terbesar hatiku. Atau mencoba memahami situasi
yang kini tak lagi berpihak disisiku.
“Engga perlu Biung, Embun
gak apa-apa kok.”aku
coba menenangkan Biung
“Sayang, inget yah Biung
selalu ada buat kamu. Jangan pernah ragu bahwa segalanya yang terjadi itu demi
kebahagiaanmu..” Biung
jeda sebentar, “Biung
yakin kamu tau itu.”
Ada rasa berat dalam suara Biung. Aku bisa
menangkapnya.
“Biung, maafin Embun.”tenggorokanku
mulai tercekat, hidungku mulai sakit, dan kabut-kabut putih itu sedikit demi
sedikit menghalangi pandanganku.
“Sayang, kamu gak pernah
salah apapun. Biung gak pernah nyalahin kamu. Dan kamu memang gak salah. Semuanya
memang harus kaya gini. Jalan ini yang mesti kamu tempuh. Memang sudah suratan
takdirnya sayang. Kamu harus kuat.”suara Biung menghangatkan hatiku yang beku, kata yang
patut kuuacap seakan kabur, tangis tak dapat ku bendung lagi. Sisanya aku hanya
menangis tersedu ditelpon. Dan Biung dengan setia tetap mendengarkan.
Setelah aku mulai tenang, telponpun
kuputus. Tanpa sadar ku lirik jam di ponsel menujukkan angka 09:10. Lagi-lagi
aku mendesah berat. Kini dia sudah tak bisa aku rindukan apa lagi kuharapkan.
Langit cerah
memandangiku
Mencoba menghibur
Kala rasa mendekam pilu
Mata basah hidung
memerah
Menyedihkan
Terpuruk aku muak
Sumber imajiku berdiri
dipelaminan
Namun apa gunanya jika
yang bersanding bukan aku
Cinta itu bahagia tanpa
memiliki
Nyatanya remuk redam
diri tak kunjung terampuni
Aku bertekad lontarkan
sumpah serapahku
Mengutukmu
Membencimu
Tapi oh tidak
Aku tak kuasa
Mampuku hanya
mencintaimu
Barisan doa terlantun
Dalam sedu kupintakan
bahagiamu
Tak berapa lama langit yang sedang
cerah-cerahnya itu malah ikut mendukung kesedihanku. Seolah ingin berujar “aku
turut berduka untukmu”. Iapun lalu meneteskan airmatanya ke bumi. Begitu
deras. Sama seperti apa yang kulakukan beberapa saat tadi.
Halte yang tadinya kosongpun berubah
menjadi penuh dan sesak. Orang-orang berlomba mencegah pakaian mereka basah.
Aku terdorong menjauh dari halte. Buru-buru ku buka payung yang selalu ku bawa
dalam tasku. Ini memang kebiasaanku, membawa payung kemanapun. Semua orang
tentu tahu peribahasa, “sedia payung sebelum hujan” dan memang itulah yang
selalu aku lakukan.
Aku menyukai hujan, sangat-sangat
menyukainya. Karena ia mendekap dua suasana dalam satu waktu. Ketentraman dan
kesedihan. Romantis ku pikir. Namun seberapapun aku menyukainya, tetap saja aku
memilih untuk memakai payung saat berdiri dibawahnya.
***
Pintu itu masih tertutup, papan tulisan
itupun belum berbalik menjadi BUKA, masih tetap dengan bacaan sebelumnya,
TUTUP.
“Kemana dia?”
pertanyaan yang lebih tepatnya ku ajukan pada diriku sendiri
“Ku pikir sekarang bukan
saat yang tepat untuk menutup bisnis. Bukan hari libur. Bukan libur nasional
juga.”
Setengah jam yang lalu setelah Kakak meninggalkan
apartemen, ia berpesan agar aku istirahat total karena mendapatkan sehari penuh
untuk libur. Sangat susah mendapatkan hari libur seharian seperti ini. Jadi dia
sudah mewanti-wanti supaya aku bisa benar-benar menggunakannya dengan baik.
Namun tanpa sadar aku telah berada disini.
Didepan pintu toko ini. Pintu yang tertutup. Ku pandang berapa kalipun, Embun
tak kunjung datang membukakan pintunya.
“Sekarang kemana lagi aku
harus mencari, bahkan namanya saja aku tak tahu, apalagi alamat rumahnya,
ataupun tempat-tempat yang mungkin ia kunjungi.” aku berbicara sendiri
“Kenapa pula aku harus
mencarinya?”
lagi-lagi aku melakukan monolog.
“Aku mencarinya hanya
ingin bertemu dengannya, iya hanya itu alasannya, tidak ada yang lain.”
Aku mencoba meyakinkan hatiku yang mulai bertanya-tanya,
Ku pacu motorku lagi, aku tak begitu hafal
jalanan disini. Sepertinya jalan ini membuat aku memutari toko Ko Ramo itu dua
kali. Rute kendaraan beroda dua berbeda dengan rute kendaraan beroda empat.
Sedangkan aku lebih sering dikawal manajerku dengan mobil.
“Sial, sudah dua kali aku
melewati jalan ini. Kenapa jalannya membuat aku bingung.” ku pukul stang motorku
pelan.
“Bagaimana ini, sepertinya
hujan akan turun. Aku harus segera sampai di apartemen sebelum Kakak tahu aku
melarikan diri.”
Deras hujan ini membuat laju motorku
semakin melambat. Jarak pandang matapun semakin dekat. Tak baik jika aku terus
memaksakan kehendakkku agar segera sampai. Ku putuskan untuk mencari tempat
berteduh terlebih dahulu.
“Tunggu. Sepertinya aku
tak salah lihat. Benar, itu Embun.” Aku melihat Embun dari kejauhan.
Wanita itu tampil berbeda dengan hari
kemarin. Dia sangat anggun dengan gaun hijau muda membalut tubuhnya. Tangan
kirinya mendekap sebuah buket. Bukankah itu buket yang kemarin aku lihat?
Tangan kanannya memegang payung, berupaya agar tubuhnya tak basah, meski
dilihat berapa kalipun, sepertinya payung itu hanya melindungi rambut dan
kepalanya saja hahaha karena hujan turun sangat deras.
***
“Kita bertemu lagi”suara
seseorang dari arah samping, mengagetkanku. Dia menggunakan helm hitam dengan
jaket hitam dan celana jins hitam, semuanya hitam, sungguh kelam.
Perlahan ia buka kaca helm sehingga aku
bisa melihat matanya, aku pandang ia lekat-lekat. Sepertinya dia bukan orang
yang ku kenal. Dia mencoba mendekat ke
telingaku kemudian berbisik, nyaris tak terdengar.
“Aku Jagat.”
Lagi-lagi aku tertegun, kedua kalinya bertemu
dan reaksiku selalu sama. Dia selalu muncul tanpa peringatan.
“Sedang apa Kakak disini?”itu
kalimat yang bisa kuucapkan setelah tahu bahwa yang berdiri disampingku
ternyata seorang artis.
“Tentu saja berteduh.” jawabnya
ringan, “Duh
payungnya geser sini dong, jaketku basah nih.”dia menarik payungku
kearahnya.
Apa-apaan lelaki satu ini. Apakah otaknya
konslet akibat terkena air hujan. Aku hanya bisa melongo melihat tindakannya.
“BBrrr dingin sekali.”
Ku pandangi dia dengan tatapan kejamku.
“Apa Kakak sadar sedang
berada dimana? Disini bukan hanya ada aku.”
“Kenapa aku harus takut,
bukankah ada dirimu?”dia menatapku, aku tak yakin dia tersenyum atau tidak,
bibirnya tertutup helm. “Kalau orang-orang itu sampai mengenaliku, bukankah kamu
akan menjagaku? Kamu bisa bela diri bukan?”
Aku memalingkan wajahku dari tatapannya.
“Meskipun aku bisa bela
diri, itu hanya untuk bela diri sendiri, bukan bela dirimu.”
Jagat tertawa mendengar jawabanku yang asal
itu. Aku tak niat bercanda. Apalagi dengan suasana hatiku yang sedang kacau
balau. Tapi dia menangkapnya sebagai gurauan.
Kami berdiri cukup lama. Halte mulai
meninggalkan beberapa orang saja. Beberapa bis telah mengangkut mereka
meninggalkan halte. Hujanpun tak lagi deras, menyisakan rintikan gerimis yang
masih turun dengan kecepatan yang konstan. Tanganku mulai pegal memegangi
payung. Orang disampingku tak sekalipun mencoba untuk berbaik hati menawarkan
bantuan.
“Hei, sampai kapan Kakak
akan berdiri disampingku? Bisku sudah
beberapa kali lewat. Kenapa aku jadi merasa Kakak sengaja membuatku mematung
memayungimu?”
cecarku jengkel
“Akhirnya kau sadar juga.”
wajahnya terlihat lega, “Kau tau kakiku pegal dari tadi, dan badanku sudah
menggigil kedinginan, menanti kapan kau akan tersadar dari lamunanmu yang
panjang itu. Sekarang mari kita pergi.” Dia kemudian menarik
lenganku, memaksa langkahku mengiringi langkahnya. Ia membuka jaketnya
memasangkannya di pundakku. Perlahan memakaikan helm di kepalaku. Memukulnya.
Lalu tersenyum.
“Ayo naik.”aku
belum mengerti apa maksudnya, “udah cepet naik jangan cuma bengong.”dia
sekali lagi menarik lenganku, membiarkan aku duduk dijok belakang motornya.
Rintik-rintik air hujan bisa kurasakan
menembus gaunku, ku peluk erat buket mawar yang sedari tadi ku bawa. Meski tak
berniat menyerahkannya pada orang yang dimaksud, tetap saja bunga ini tak
memiliki salah apapun. Aku tak boleh melukainya.
Jagat memacu kendaraannya dengan kecepatan
sedang, udara dingin menusuk tulang, sedangkan pikiranku melayang. Mungkin
orang itu sekarang sedang bersalaman dengan beribu tamu yang datang. Menebarkan
senyum jutaan kali. Atau mungkin ia sedang menyuapi orang yang disampingnya,
berpose untuk foto kenangan yang nantinya akan mereka pajang di dinding ruang
utama.
Pikiranku sibuk mondar mandir menyakiti
hatiku sendiri. Airmata perlahan tumpah ruah. Bergabung dan bersekutu dengan
air hujan. Mereka sama-sama bersekongkol membuat pipiku basah. Dan kini aku
menangis membisu dalam naungan hujan.
***
Meski tak bersuara, aku yakin Embun sedang
menangis di balik punggungku. Tapi itu lebih baik daripada saat di halte tadi.
Termenung lama, seperti sedang meruntuki diri sendiri tapi di dalam hati.
Membuat aku gusar melihatnya.
Lebih baik seperti ini. Ia mengeluarkan
beban yang ditanggungnya. Aku memang tak bisa bertanya banyak. Tapi aku bisa
lihat dengan jelas bahwa Embun sedang menghadapi masalah yang sangat berat.
Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan.
Menemaninya, berada di dekatnya, dan
berusaha membuat ia mengeluarkan segala bebannya kemudian melupakan dan melepaskan
beban tersebut.
Sepertinya Embun sudah mulai tenang saat
ini.
“Mau aku ajak ke tempat
kamu bisa berteriak dengan puas?” tanyaku
“Kenapa aku harus
berteriak?”
“Tentu saja untuk
melapangkan dadamu.”
“Tak perlu, Kakak hanya
perlu mengantarkanku pulang.”
Aku tahu hati kecilnya tak ingin berkata
seperti itu, maka dengan itu aku tetap membawanya menuju tempat yang ku
tawarkan tadi padanya. Sebuah tempat karaoke.
“Ngapain kita kesini?” Tanya
Embun setelah sampai di tenpatnya.
“Tentu saja untuk
berteriak.”jawabku
meyakinkan. Kulihat Embun melihatku dengan tatapan tak percaya.
“Ku kira Kakak akan
membawaku ke taman hiburan.”jelasnya polos
“Oh nona kamu lupa aku
seorang artis? Pergi ke taman hiburan sama saja kau mengantarku ke sarang
singa.”
Embun tersenyum, akhirnya aku bisa melihat
senyum manisnya lagi. Ah sungguh melegakan. Entah dari kapan aku menantikan
pandangan yang seperti ini.
“Kenapa Kakak menatapku
seperti itu?”
lagi-lagi wajah juteknya yang keluar.
“Hei, apa untuk menatapmu
pun aku perlu minta ijin?”Aku berjalan masuk meninggalkannya.
“Bukan itu maksudku. Kakak
pasti tau apa maksud ucapanku.”Embun berusaha menyamai setiap langkahku.
“Tapi aku gak tau dan gak
berniat untuk tau apa maksud dari ucapanmu.”
Kami berjalan menuju medium room, meskipun
kami hanya berdua, aku tak ingin Embun menganggapku sebagai lelaki yang aneh.
Ruangan itu kini gelap, hanya diterangi oleh kelap kelip lampu yang saling
bergantian menyala.
Embun mulai mengotak ngatik layar di
depannya. Ia memilih-milih lagu yang ia kehendaki. Aku hanya memandangi dirinya
dari samping. Melihat ia begitu seriusnya memilih lagu.
“Tapi aku gak pinter
nyanyi.”
keluhnya tiba-tiba
“Kamu kesini bukan untuk
audisi, lagipula aku tak akan menilai suaramu, kamu tak akan sanggup membayarku
sebagai juri.”Lagi-lagi
Embun tersenyum mendengar ucapanku.
“Baiklah, mari kita
berkaraoke.”
jawabnya semangat 45.
Lagu dilayar perlahan muncul, judulnya
mulai terbaca. Bukannya sudah jelas tadi aku katakan padanya untuk berteriak.
Tapi mengapa ia malah memilih lagu mellow dengan nada menyenyakkan tersebut.
“Heh, ku bilang kita akan
berteriak, bukan tertidur.”ucap ku sedikit menyentak
“Tapi aku suka lagu ini.”jelasnya
lembut
“Tapi aku gak suka.”ujarku
tajam
“Tapi aku yang nyanyi,
mulut-mulut aku”
“Aku yang dengerin,
telinga berhargaku tak cocok dengan lagu pilihanmu”
“Aku ingin nyanyiin lagu
yang aku suka.”
“Inget, aku yang bayar!”
“Kakak niat ngehibur aku
gak sih?”ku
lihat Embun mulai menjawab lemas, aku jadi ingin tertawa melihatnya.
“Membantu bukan berarti melakukannya
sesuai keinginan orang yang dibantu, nona manis. Hahaha lagian dengan lagu yang
kamu pilih itu aku yakin bukannya melupakan tapi kamu malah semakin mengingat
hal yang sedang tak ingin kamu ingat itu.”
Embun agak cemberut mendengar komentarku,
kemudian dia mengotak-ngatik layar di depannya lagi. Akhirnya iapun berhasil
menemukan lagu yang bisa membuatnya berteriak. Aku yakin, jika ini memang
sebuah acara audisi, dia akan langsung gagal begitu suaranya keluar. Suaranya
membuat gendang telingaku sakit. Tapi itu tak seberapa sakitnya dibanding tadi
saat aku menemaninya di halte.
Embun berteriak-teriak tak karuan. Meski ia
tetep duduk dengan manis. Tapi suaranya melompat-lompat kesana kemari.
Membuatku tertawa terbahak-bahak setiap ku liat wajahnya yang begitu serius
berusaha menyanyikan lagu agar terdengar benar.
***
Suaraku hampir habis, tenggorokanku mengering.
Air yang berada di depanku langsung ku habiskan dalam satu tegukan. Walaupun
lelah tapi harus ku akui aku menikmatinya. Dan ingatan tentang dia yang meninggalkanku
malah terlupakan.
Waktu untuk berkaraoke tinggal lima belas
menit lagi. Ku sandarkan punggungku kebelakang. Pegal. Ku lirik Jagat yang
berada di sampingku. Aku terkejut. Ternyata dia sedang tertidur. Dari kapan dia
mulai tertidur? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus membangunkannya?
Ku putuskan untuk membiarkannya tertidur
selama waktu karaoke belum habis. Dengan gerakan yang tak mencurigakan ku coba
mengamati wajahnya. Semakin dekat kau melihatnya, ku yakin semua orang akan
masuk kedalam dunia khayal. Mengkhayal untuk bisa selalu memandang dekat wajah
seperti itu setiap harinya.
Ku pikir dia tak begitu buruk. Walaupun di
hari pertama pertemuan kami, dia amat terlihat gila pujian, tapi hari ini dia
menampilkan sisi dirinya yang lain. Sepertinya dia berusaha menghiburku. Aku
menghargai sikapnya yang tak menuntut penjelasan dariku. Jarang menemukan orang
yang seperti itu.
Ketika aku masih memandanginya, orang
dihadapanku itu membuka mata.
“Udah puas liatnya?” Kemudian
dia tersenyum. “Tadinya
aku mau ngasih waktu agak lama, tapi posisinya buat badanku pegal. Terpaksa aku
harus bangun.”
Jagat tersenyum lagi.
Aku salah tingkah. Sepertinya otak Jagat
masih konslet. Cepat-cepat aku menjauhinya. Bertingkah seolah tak ada yang
terjadi.
Hari sudah hampir gelap saat kami tiba di
depan kontrakan, sebelum pulang tadi, Jagat mengajakku untuk makan terlebih
dahulu. Sekarang aku begitu canggung mengucapkan terima kasih kepada Jagat.
“Terima kasih untuk hari
ini.”ucapku
ragu
Jagat menunjuk sesuatu, “Kalo
kamu emang ngerasa berterima kasih, kamu boleh ngasihin buket itu buat aku.”
Aku kaget setengah mati. Ada apa dengan
orang ini. Sikap dan sifatnya benar-benar tak dapat aku perkirakan. Dia selalu
melakukan dan mengucapkan apapun sesuka hatinya.
“Aku tau buket itu pasti
sangat berharga, dari tadi kamu memeluknya erat. Tapi bukannya kamu bilang
setiap bunga mewakili setiap rasa? Aku yakin buket itu juga memiliki satu rasa
yang sama dengan hatimu. Tapi rasa itu tak akan pernah tersampaikan kalo kamu
tidak memberikannya pada siapapun bukan?” dia masih menatapku, “Aku
siap menerimanya.” lanjut
ia dengan senyum andalannya.
Oh Tuhan, apakah dia tahu bunga yang ku
peluk ini mewakili rasa apa? Sebuah mawar putih mewakili rasa kesungguhan,
kemurnian, ketulusan, kesucian, cinta sejati. Bagaimana mungkin aku memberikan
bunga ini padanya. Dan apa katanya tadi. “Aku siap menerimanya?”
Hah aku ingin tertawa. Ingin rasanya aku menjawab, “tapi aku yang tak siap
memberikannya.”
Namun tak mungkin aku mengatakan hal itu setelah apa yang telah dia lakukan
hari ini untukku.
“Maafkan aku, tapi rasa
yang ingin kusampaikan ini bukan untukmu. Percuma apabila rasanya tersampaikan
tapi bukan pada orang yang diinginkan.” aku terdiam sesaat, “Lain kali aku akan mentraktir Kakak, membalas segala kebaikan
Kakak secepatnya.”
***
"Kamu bilang percuma?" Aku menatapnya tajam, "Gimana kalo
orang yang diinginkan itu terkalahkan oleh orang yang ditakdirkan?"
Entah mengapa aku menjadi kesal mendengar perkataan Embun barusan.
"Yaudah lah lupain aja, gak perlu juga kamu balas apa yang udah aku
lakuin hari ini, kamu belum tentu bisa balesnya."
Ku tinggalkan Embun termenung sendiri dibelakang. Aku tak ingin peduli
lagi dengan apapun yang menyangkut tentangnya. Ku banting pintu apartemenku,
jengkel sekali rasanya. Dia membuat usahaku menjadi sia-sia.
"Apalagi sekarang alasannya?" Ternyata Kakak sudah berada di
dalam, hanya aku dan dia yang memiliki kunci apartemenku.
"Kak, udah lama?" Aku berjalan menuju sofa dan langsung
melemparkan badanku diatasnya.
"Kamu kenapa sih Gat, aku kan udah bilang, kamu tuh istirahat,
bukan keluyuran. Tubuhmu itu butuh berdiam."
"Iya Kak kamu bener, harusnya dia sadar aku orang yang sibuk,
sengaja aku meluangkan waktu, bukannya berterima kasih, malah membuatku
kesal."
"Jagat, kamu tuh ngomong apa sih? Dia siapa? Udah deh jangan
mengalihkan pembicaraan. Aku sama ibumu menelpon berkali-kali tak pernah
sekalipun kau angkat. Kau membuat darah tinggiku kumat."
"Sama banget, darah tinggiku pun sepertinya kumat, dia membuatku
emosi, dia membuat segalanya sia-sia." Aku sedang menggebu-gebu,
"Kamu tau Kak, aku sampe tertidur tadi, badanku lelah dibuatnya, dan
sekarang perasaanku pun menjadi lelah." Aku membiarkan Kakak menatapku tak
mengerti, "Aku betul-betul menyesal tadi sempat berpikir untuk
membantunya. Wajahnya begitu murung ketika ku lihat dari kejauhan, membuat aku
ingin menghiburnya. Arrgghhh betapa bodohnya aku." Ucapku seraya mengacak2
rambutku sendiri, uuppss apa aku telah berbicara terlalu banyak. Manajerku
menatap dengan amat serius, dia mendekatkan wajahnya pada wajahku.
"Kamu jatuh cinta?" Tanya Kakak tiba-tiba
"Tentu saja tidak!" Batahku cepat sambil menjauhkan wajahnya
dari hadapanku
"Ah kamu mencoba menipuku? Tidak tidak, kamu tidak bisa membohongi
orang yang telah bertahun-tahun disampingmu." Dia menggoyang-goyangkan
telunjuknya di depan wajahku. Menggodaku.
"Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada orang yang baru beberapa kali
kamu temui?" Aku mencoba mencari teori yang paling mendekati
"Nah itulah yang orang sebut sebagai cinta pada pandangan
pertama." Ujarnya meyakinkan
"Hah, sepertinya semua naskah serialku terlalu banyak kamu baca
Kak."
"Siapa gadis itu?" Dia mengangkat alisnya keatas sambil
tersenyum
"Tak ada seorang gadis, dia hanyalah orang lain." Jawabku
masih sedikit kesal.
"Aku cuma bisa mengingatkan, hati-hati saat kamu bertemu dengannya.
Banyak wartawan yang menanti berita tentangmu."
"Aku tak pernah bilang aku akan menemuinya lagi."
"Yah siapa tau bukannya kamu yang ingin tapi gadis itu yang
berharap."
"Benar, Kakak memang terlalu banyak membaca naskah serialku.
Sudahlah aku lapar."
Selesai mandi, ku tatap seluruh sudut kamarku, mencari kemana secarik
kertas yang dulu pernah ku sembunyikan, aku lupa telah menyelipkannya dimana. Kertas
yang diberikan oleh almarhumah nenekku sebelum ia meninggal dua minggu yang
lalu. Alamat ayah kandungku. Langkahku masih terasa ragu untuk benar-benar
mencari kertas tersebut. Baru mata yang telah ku ijinkan untuk mencarinya,
tidak dengan anggota tubuhku yang lain. Belum saatnya aku memaafkan orang itu.
Memaafkan. Tiba-tiba satu kata itu malah membuatku teringat dengan
Embun.
"Sial, kenapa aku harus mengingat gadis bodoh itu lagi."
Gerutuku pada diriku sendiri
"Dia tak tau dimana posisinya, dia tak menyadari tengah berhadapan
dengan siapa. Kita lihat saja siapa yang lebih berharap untuk bertemu
lagi." Ucapku masih jengkel.
Cuaca hari ini berubah-ubah dengan dratis, dia sungguh mempengaruhi
moodku. Tadi pagi aku berharap bertemu dengannya. Sekarang aku malah menyesali
perbuatanku hari ini. Hidup dan hati ternyata memiliki persamaan, sama-sama
sulit diprediksi.
***
Buket mawar putih itu kembali aku simpan di atas meja belajarku.
Kupandangi sesaat. Lalu mendesah dengan berat. Hari ini sungguh panjang terasa.
Kesegaran menyelimuti tubuhku, aku telah membersihkan diri kemudian kurebahkan
tubuhku diatas kasur. Seperti biasa aku mengecek ponselku terlebih dahulu. Ada
beberapa pesan dari Biung. Ku buka satu per satu pesan di ponsel sembari
mencari remote televisi yang td pagi lupa ku lempar kemana. Setelah
menemukannya aku langsung menyalakan televisi.
"Sungguh kebetulan sekali, aku langsung disuguhkan serial yang
memuat wajahmu." Gerutuku pada benda kotak di depan mata.
"Hebat sekali aktingmu, kau menangis? Hahahaha ku kira kau hanya
bisa berteriak." Aku mengomentari setiap adegan yang dia perankan.
Kulirik ponsel ku kembali, semua pesan Biung hanya bertanya bagaimana
keadaanku. Biung mungkin akan senang jika tahu anaknya pergi berdua dengan
seorang artis.
Aku mulai mengetikkan pesan pada Biung,
Embun lagi nnton serial
favorit Biung nih.
Ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk, dari Biung.
Oh iya Biung lupa, kemarin
yang datang ke tokomu itu si Jagat kan, Arka Jagatnata, artis terkenal itu?
Dengan membacanya saja aku sudah bisa membayangkan bagaimana Biungku itu
sedang excitednya.
Ia dia Jagat Biung. Ah Biung
jangan terlalu ngefans sama dia. Dia gak sebagus di televisi.
Kukirimkan balasanku.
Iya memang, aslinya jauh
lebih bagus, Biung saja sampai terpesona melihatnya.
Hahaha Biung tau maksudku seperti apa tadi. Eh
Biung, kalo anakmu ini berkencan dengan seorang Arka Jagatnata bagaimana
menurut Biung? Hahahaha geli sekali membayangkannya.
Ah kamu bermimpi terlalu
jauh. Tapi jika memang itu terjadi bagaimana yah? Hmm. Biung memang
menyukainya. Tapi untuk jadi menantu sebaiknya tidak.
Aku kaget membaca balasan dari Biung, memang sih bukan berarti aku berniat
untuk menikah dengan Jagat, tapi aku sama sekali tidak menyangka Biung mempunyai
penilaian seperti itu.
Memang kenapa Biung?
Nurani seorang ibu hehehe
Percakapan kami usai sampai disitu. Toh aku juga tak begitu mau
mempermasalahkannya. Jagat bukan siapa-siapa bagiku.
Sungguh, buket bunga mawar itu menganggu pandanganku. Seharusnya tadi
aku berikan saja pada Jagat. Lagipula dia tidak mengetahui apa arti dari
bunganya. Dia juga tak mengerti rasa apa yang hendak aku sampaikan. Dia juga
tak mengetahui siapa yang akan menerimanya. Heh sepertinya tadi aku sudah
berlebih kepadanya.
***