Minggu, 05 Februari 2017

Sebening Embun


Seperti biasanya aku menjalani rutinitas harianku, merangkai berbagai rasa menjadi tetap indah meski tak selamanya rasa yang tersampaikan indah. Merawat dan menjaga setiap rasa agar tetap tumbuh sebagaimana mestinya. Dengan segala keunikan serta berbagai warna yang menghiasinya. Layaknya hal yang patut kau banggakan. Karena dia selalu bisa mewakili apa yang ada di dalam hatimu.
Seorang nenek tua baru saja keluar dari tokoku, ia memilih bunga amarilis untuk cucunya yang hari ini telah lulus dari sekolah tingkat pertama. Sekitar satu jam berada dalam tokoku, sembari menanti aku merangkaikan bunga pilihannya. Beliau menceritakan bagaimana perasaannya pada hari ini. Wajahnya menampakkan rasa bangganya. Hal itu pulalah yang ingin aku tampilkan pada rangkaianku kali ini. Sebuah rasa bangga dari sang nenek untuk cucunya.
Aku mengantarkan beliau keluar dari tokoku, dengan tersenyum indah dan berterima kasih berulang kali.
Terima kasih nak, buket bunga yang telah kau rangkaikan sungguh indah. Nenek yakin cucu nenek akan menyukainya. ucapnya sambil tersenyum
Aku senang jika nenek menyukainya, semoga cucu nenek merasakan perasaan yang ingin nenek sampaikan.  jawabku pada sang nenek.
Aku kembali masuk ke dalam toko, melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda. Merangkai buket bunga mawar putih yang amat indah. Bunga yang mewakili perasaan dalam hatiku. Perasaan yang telah hadir selama tujuh tahun namun harus kuakhiri esok. Meski segala apa yang ada padaku menolak keputusan tersebut tapi kenyataan yang akan terjadi esok tetaplah tak bisa dirubah. Aku berniat menyerahkan buket ini esok disaat hari terbahagianya.
Tak berselang lama bel diatas pintu berbunyi. Tanda ada yang masuk ke dalam tokoku. Saat aku melihatnya aku tersenyum indah. Dia adalah malaikat duniaku. Dia adalah pelindungku, lentera kehidupanku. Dia adalah Biungku. Panggilanku kepada ibu yang telah melahirkanku.
Hai Biung, tumben siang-siang udah main kesini. sapaku
Memang kamu gak mau kalo Biung datang siang-siang? Ayo kamu sembunyiin sesuatu yah? Biung menatapku tajam. Aku tahu Biung hanya bercanda, beginilah hubungan keluarga kami, sungguh hangat.
Biung cuma mau ngingetin kamu, besok pokonya kalo bisa gak usah datang, gak perlu datang, meskipun kamu pengen pokonya gak usah lah, kamu harus nolak. cecar Biungku panjang
Hahaha.. aku paksakan untuk tertawa hambar. Aku sangat mengerti apa maksud Biung. Hari esok memanglah suatu kenyataan pahit. Tenang Biung, Embun tau kok jalan mana yang baik untuk Embun ambil. jawabku penuh keteguhan.
Yah, namaku Embun. Sebening Embun. Entah mengapa orang tuaku memilihkan nama yang lebih cocok untuk dijadikan sebuah kalimat itu. Tapi aku begitu menyukainya. Aku merupakan anak tunggal. Terlahir dari keluarga yang sederhana. Dibesarkan dengan penuh cinta.
Oh iya, Biung juga disuruh Baba, tanya kapan kita akan ke makam Appa? Baba bilang tiga hari lagi Baba bisa pergi.
Embun ikut aja, Biung. Aku menatap heran pada Biung, Biung, kok Baba tuh baik banget, mau gitu yah ngingetin istri sama anak tirinya buat pergi ke makam mantan suami istrinya sendiri. ujarku sambil geleng-geleng kepala
Beruntung kan Biungmu ini dapet pengganti Appa yang sama baiknya. ujar Biung sombong
Hahaha mulai deh sifat aslinya keluar. Sombong. Hahaha. aku dan biung tertawa-tawa. Embun bahagia banget Baba sayang Biung dan anggep Embun anaknya sendiri. Sikap Baba kadang buat Embun lupa kalo Embun cuma anak tirinya.lanjutku dengan senyuman
Biung mendekat padaku, memeluk tubuhku seraya mengusap kepalaku. Embun anak Biung, Appa, dan juga Baba. Selamanya selalu kaya gitu. Biung mengecup keningku. Dan kami kembali tertawa.
Aku kembali menyelesaikan rangkaian bunga mawar putih yang lagi-lagi harus tertunda. Biung jalan berkeliling. Memeriksa beberapa bunga dan tanaman hias yang berada di rak-rak toko.
Kamu bener-bener mirip Appa.ujar Biung tiba-tiba
Karena Appa juga suka bunga?aku sudah tahu itu
Tepat. Biung menajamkan matanya tanda dia sangat-sangat setuju, Biung udah ceritakan, Appamu itu hobi sekali mengoleksi bunga. Dulu halaman rumah kita dipenuhi dengan berbagai macam jenis tanaman…”belum selesai dengan kalimatnya, aku memotong dan melanjutkan
Appa selalu bilang kalo bunga itu seperti hati manusia. Ia mewakili rasa yang ada di dunia ini. Gitu kan lanjutan cerita Biung? Hahaha Aku sudah hafal sekali dengan semua kalimat ini, karena Biung sudah sering mengulangnya.
Dasar bocah nakal, seenaknya saja memotong omongan orang tua.Biung tersenyum padaku.
Inilah kisahku. Kisah yang memilukan ku rasa. Bukan tentang aku yang mempunyai seorang ayah tiri. Kisah ini jauh dari alasan tersebut. Bunga yang memiliki makna kesedihanpun dia selalu bermekaran dengan indah. Begitupula yang aku harapkan dengan diriku. Meski rasa yang ada dalam hatiku begitu menyesakkan, namun aku ingin semuanya melihatku tetap bahagia.
Saat aku bertemu dengannya, berkenalan, hingga akhirnya berjanji untuk saling membahagiakan. Apa yang salah dari rencana tersebut? Dimana letak kekeliruannya hingga bahagia bisa terenggut dari hidupku. Pada awalnya aku tak menyadari perubahan apa yang terjadi padanya. Dia selalu menghindar jika aku memintanya bertemu. Sedikit demi sedikit pesan dan teleponku dia abaikan. Dan pada akhirnya di hari tepat ketujuhtahunnya hubungan kami, dia meminta untuk bertemu. Dia menyodorkan sebuah kertas berwarna kuning keemasan. Begitu kubuka, yang pertama kali terbaca olehku adalah namanya. Tanganku seketika lemas. Kertas itu langsung kututup tanpa kubaca nama selanjutnya. Sampai saat ini aku tak tahu nama wanita beruntung itu. 
Hari demi hari aku menata hatiku untuk berhasil melewati hari esok. Hari penuh suka cita namun menenggelamkan kesedihan hanya padaku. Isak tangis dan beberapa kepiluan sudah menemani tiap malamku. Membuatku kadang termangu dan terpekur, apakah hidup begitu membenciku?
Biung menyalakan televisi, acara infotainment, berita terbaru artis yang tengah naik daun. Tentu saja Biung menjadi salah satu dari penggemar serialnya.
Berita kali ini datang dari artis yang sedang banyak digandrungi masyarakat. Siapa lagi kalau bukan Jagat. Baru-baru ini netizen berhasil menangkap kemesraan Jagat dengan lawan mainnya dalam serial. Jagat sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Namun banyak tersiar kabar bahwa ia berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Dikabarkan Ayah Jagat merupakan pengusaha minyak yang telah memiliki beberapa cabang..
Pantas saja dia bisa menjadi terkenal, dukungannya sangat banyak.celetuk Biung memotong siaran infotainment itu.
Namun meskipun begitu, Jagat tak pernah menggunakan nama besar sang ayah untuk menyokongnya di dunia hiburan ini. Dia berjuang dari bawah dengan kemampuan dia sendiri..
Noh Biung jangan dulu berburuk sangka. giliranku memotong sambil terkekeh.
Seperti sebulan yang lalu, Biung rutin mengunjungiku sembari menguatkanku bahwa hidup bukan membenciku melainkan sangat mencintaiku. Maka inilah yang terjadi. Karena kehidupan amat mencintaiku. Dan begitu pula dengan tujuannya hari ini. Biung datang mengunjungiku, lagi-lagi mengingatkanku menguatkanku dan segala macam tektekbengeknya.
Biung tau kamu pasti bisa, kamu pasti mampu.Biung kembali membahas pokok utama alasannya menemuiku.
Bel itu berbunyi lagi, ada seseorang memasuki tokoku kembali. Belum sempat aku melihatnya, tubuhnya tertutup oleh rak bunga yang tegak berdiri memisahkan ruang merangkaiku dengan pintu masuk, namun aku harus sekali lagi menegaskan bahwa aku baik-baik saja pada Biungku.
Iya dong Biung, Embun pasti bisa.jawabku menenangkannya dan tak lupa memberikan senyum yang tak kalah indah dari miliknya.
Baiklah kalo gitu Biung pulang dulu yah, lagian kayanya kamu kedatangan pelanggan.
Biungku berjalan keluar menuju rak yang memisahkan itu, aku memenemani langkahnya dan alangkah terkejutnya kami, yang berdiri memandang kami adalah seorang public figure, seseorang yang akhir-akhir ini merajai semua stasiun televisi, setiap ku nyalakan televisi, wajah dia yang selalu muncul menghias layar kaca. Wajah dia pula yang baru saja kami lihat di televisi.

***
Derap langkah kaki begitu kental terdengar, begitu pula langkah kakiku sendiri. Alunan merdu dari angin semilir juga terdengar begitu nyaring menemani. Cuaca sangat indah hari ini. Mataharipun tak ingin membakar dengan kejam, ia menyembunyikan sebagian tubuhnya dibalik awan agar tetap menghangatkan namun tak menyengat.
Entah berapa toko yang sudah dilalui. Dan orang disampingku masih juga bergulat dengan kata-kata yang begitu sungguh luar biasa belum juga selesai. Aku bisa membayangkan mulutnya berbudah karena kapasitasnya kali ini sudah melebihi kemampuan kerjanya. Aku tak habis pikir dia masih saja terus bisa mengeluarkan suara.
Jadi, kapan aku harus melakukannya?potongku, karena aku yakin ia tak akan berhenti berbicara sebelum aku bersedia menerimanya.
Sebentar-sebentar, kamu mau nih ceritanya? Kamu menerima tawaranku? Sungguh?Tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Empat tahun yang lalu kau juga membantuku, kau dan Kakak menemani hari-hari terberatku saat aku masih jadi artis pendatang baru, mendaftarkan aku ke segala macam agensi, rela mondar-mandir mengikuti casting, pergi pagi pulang malem. Jadi yah kalo untuk sekedar foto apa susahnya untukku.
Siapa dulu yang mengenalku. Arka Jagatnata. Meskipun namaku sangat unik. Arka dalam bahasa sangsekerta berarti menuju matahari sedangkan jagat merupakan tempat dimana kita bernaung. Atau bisa dibilang menuju matahari dunia yang tertata. Tapi tetap saja tak banyak orang yang tau tentang diriku. Baru setengah tahun ini orang-orang mulai mengenalku. Sibuk membicarakanku. Wajahkupun sering muncul menghiasi layar kaya televisi.. Untung hari ini aku melakukan penyamaran, agar orang tak mengenaliku.
Tentu mereka juga hapal aku berasal dari keluarga seperti apa. Dengan seorang ibu yang sangat super sosialita juga shopaholic yang berpasangan dengan ayah yang terlahir kaya raya. Meskipun identitas orang tuaku tidak mereka ketahui. Dapat dipastikan aku hidup tak kekurangan apapun. Namun ada lagi yang tak orang lain ketahui tentangku. Aku sendiri baru mengetahuinya dua minggu yang lalu bahwa aku bukan anak dari orang yang selama ini aku anggap ayah.
Wah ternyata pertemuan empat tahun yang lalu itu benar-benar membekas sekali untukmu. Siapa yang mengira artis figuran sepertimu bisa sangat bersinar sekarang. Dan siapa yang kira gagal menjadi artis malah membuatmu lebih bahagia hahaha, untung Kakak bertemu denganmu. Jadi setelah ia gagal, ia malah bisa jadi manajermu hahahaha. Andrian terkekeh.
Kami masih saja menyusuri deretan toko tersebut. Hingga akhirnya aku melihat seorang wanita tersenyum manis dengan bibir tipisnya yang merah, semanis cuaca hari ini, semanis tiupan angin saat ini, semanis kata-kata yang terucap dari temanku ini, semanis derap langkah yang ku dengar ini.
Rambut hitamnya ia ikat sembarang ke atas. Sinar matahari menyentuh kulit sawo matangnya dengan lembut. Badannya yang proposional membuat sinar matahari itu tak mampu menyentuh orang yang sedang dipapahnya. Oh aku tak bisa mengalihkan mataku dari pandangan yang amat menyilaukan tersebut. Ia mampu memudarkan gambaran-gambaran disekelilingnya. Ataukah mataku saja yang terlalu terarah padanya sehingga orang yang begitu amat banyaknya berlalu lalang disampingnya, tak ayal bagaikan pemeran figuran disebuah serial yang menayangkan wanita itu sebagai pemeran utamanya.
Duh sebenarnya apa yang tengah aku pikirkan. Kalimat yang begitu mengalir dari mulut Andrian menjadi sama sekali tak terdengar. Atau lebih tepatnya dari awal aku memang tak berniat mendengarkannya. Dan wanita itu begitu lembutnya memapah seorang nenek tua yang sedang memeluk seikat bunga. Mereka sepertinya tengah berbicara sesuatu yang amat menyenangkan. Karena ku lihat mereka saling bertukar senyuman.
Ku lihat wanita itu masuk menuju salah satu toko. Ketika aku sudah dekat dengan toko tersebut ku liat nama yang terpapang di kacanya. Ku Ramo. Seperti bahasa Jepang. Ternyata toko yang dimasuki wanita itu adalah toko bunga.
Gat, kenapa kamu berenti disini? tanya Andrian aneh karena aku berhenti dengan tiba-tiba
Aku mau masuk. jawabku singkat
Mau ngapain? Hey jawab aku
Belum sempat ku jawab pertanyaan Andrian, ku genggang erat gagang pintu tersebut, dan mendorongnya sekuat rasa penasaran yang berkecamuk dalam diriku. Kemudian suara bel terdengar. Aku melihat sekeliling, Penuh dengan bunga beraneka warna dan bentuk, sangat indah. Andrian mengikutiku dari belakang. Aku mencari wanita itu. Wanita dengan senyumnya yang manis.
Tak sengaja ku dengar sebuah percakapan.
Kamu pasti mampu.
 Siapakah itu? Aku berjalan lebih dalam, namun sebuah rak menghalangi ku, aku mencoba mengintip dari balik celah-celah yang memisahkan pot-pot bunga indah. Ku buka kacamata hitam dan topi yang sedari tadi menyembunyikan wajahku. Itu dia, aku dapat melihatnya. Seorang wanita dengan senyum manis. Itu dia sedang berdiri menghadapku.
Wanita tersebut kemudian menjawab perkataan orang didepannya.
Embun pasti bisa.
 Embun? Kalimatkah? Atau nama dia? Embun? Pikiranku melayang, namanya sangat mencerminkan dirinya. Embun. Ah sungguh nama yang indah. Andrian menepuk pundakku. Dia memecahkan imajinasi indahku. Sungguh menyebalkan.
Kau sedang apa? telusurnya,  Jangan bilang kau menguping.ancamnya
Enak saja. jawab ku kesal.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah kami. Dua orang berdiri dihadapanku. Menatapku dengan wajah curiga. Tentu saja mereka akan curiga. Yang ku lakukan beberapa saat tadi adalah tindakan criminal. Aku menguping. Bagaimana ini, mereka menatap tajam ke arahku. Begitupula wanita dengan senyum manis tadi. Mata hitamnya seolah menjeratku. Meminta penjelasan atas tindakan bodohku. Dan aku semakin membisu.

***
Aku termangu, sungguh tak kuduga akan bertemu artis yang tengah naik daun itu. Dia berdiri tepat dihadapanku. Tubuhnya menjulang tinggi, berpakaian sangat stylish, dengan segala macam merek terkenal menempel pada kulit coklatnya yang menggoda, terutama kemeja yang tengah ia pakai, memperlihatkan sangat jelas dadanya yang bidang, tak lupa pula fakta bahwa wajahnya yang eyecatching.
Ku lirik Biungku sesaat, dia sama tertegunnya denganku. Waktu seakan berenti, bukan karena aku mengaguminya, seperti semua fans fanatic dia yang rela menanti di depan rumahnya, mendatangi setiap lokasi syutingnya. Oh sungguh aku bukan bagian dari mereka. Tapi keadaan ini terlalu mendukung sehingga menciptakan nuansa yang tak kalah indah dari bunga-bunga yang bertebaran sekitar kami.
Namun aku harus sadar, bagaimanapun dia adalah pelanggan. Ku tarik semua suasana indah tersebut. Perlahan ku kerdipkan mata yang sedari tadi memandangnya kagum. Berupaya kembali menjadi seorang florist yang handal. Ku coba menjadi diriku yang biasanya, yang bahagia menerima pelanggan.
Selamat datang. sapaku dengan senyuman, ku harap dia tak keberatan atas tindakan melototku tadi.
Kalimatku menyadarkan Biung dari rasa tegunnya. Ia kemudian berpamitan padaku dan berjalan keluar toko sambil masih terus memandang kami. Aku yakin Biung akan menyuguhkan ribuan daftar pertanyaan tentang artis ini nanti malam saat aku telah menutup toko.
Halo Kak, mau cari rasa yang seperti apa? tanyaku. Aku baru menyadari ternyata yang datang dua orang. Padahal orang disampingnya itu tak kalah stylish darinya, tapi aku malah baru menyadari kehadirannya sekarang.
Kemudian suara dering telepon terdengar. Pria yang berdiri disamping Jagat, begitulah kami –masyarakat umum- mengenal namanya, mengangkat telepon yang berada disakunya. Dia berjalan menjauhi kami berdua.
Mau cari rasa apa Kak? tanyaku lagi
Jagat yang sedang memandang kearah lelaki yang mengangkat telpon itupun langsung memalingkan wajahnya kearahku.
I..iya apa?  jawab Jagat tergagap
Aku tak bisa mengerti mengapa dia tergagap, harusnya aku yang tergagap dalam kondisi saat ini, tapi mungkin dia terlalu konsentrasi melihat lelaki satunya lagi.
Saya tanya Kakak mau cari rasa yang seperti apa? tanyaku ketiga kalinya.
Rasa? Bukankah ini toko bunga? sebuah tanda tanya sungguh terpapang jelas di wajahnya.
Iya Kak, setiap bunga itu mewakili rasa. Ada rasa kagum, rasa kecewa, bahagia, sedih, kasih sayang, persahabatan, suci, murni dan tentu saja masih banyak yang lainnya.  jelas ku seperti biasanya pada setiap pelanggan.   Tanpa kita sadari, setiap orang yang kita temui selalu kita berikan satu rasa pada hati kita. Jika Kakak mengingat orang itu, pasti rasa yang sama muncul. Dan ketika Kakak ingin memberinya bunga, akan selalu ada bunga yang bisa mewakili rasa itu
Wah aku baru tau ternyata bunga punya peran yang penting, mereka menjadi perwakilan rasa. jawabnya terkesan.
Tentu saja Kak, mereka bermekaran untuk mengisi setiap kata yang mungkin sulit untuk diungkapkan, setiap tingkah yang mungkin sulit digambarkan. aku memandanginya sesaat,  jadi rasa seperti apa yang Kakak inginkan?
Jagat mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tokoku. Mungkin ia sedang mencari bunga yang cocok untuk menggambarkan suasana hatinya. Lelaki yang tadi mengangkat telpon kembali mendekati Jagat.
Gat aku harus kembali ke toko, ada yang sedang menungguku disana.ucapnya
Okay kamu duluan aja. jawab Jagat
Bener nih gak apa-apa aku tinggal?
Iya gak apa-apa, aku tau jalan ke rumahku sendiri.
Lelaki itu terkekeh mendengar jawaban dari Jagat, Aku hanya merasa tak enak jika aku meninggalkanmu seperti ini.
Oh yang benar saja. Cepatlah kau pergi, nanti yang menunggumu sudah tak disana lagi. ucap Jagat sembari menggoyangkan dagunya.
Sorry yah, sekali lagi sorry.
Suara bel terdengar, lelaki itu telah meninggalkan kami berdua. Aku masih menunggu Jagat memberikan jawaban. Tapi sepertinya dia tak memiliki jawaban yang dicari-cari. Aku mencoba untuk membantunya.
Kakak ingin memberikan bunga untuk siapa? aku berusaha membantu,  Pacar Kakak? Aku mengingat acara infotainment tadi yang menayangkan kemesraan dia, Sodara Kakak? aku mencari kemungkinan lain, Ibu Kakak?, tampak ia masih terus berusaha berpikir. Kepalanya menunduk, tiba-tiba dia berseru.

***
Wanita ini terus memandangiku, dia membuat ku tak bisa berkutik. Mata hitamnya seakan menguliti, mencari tau apa yang ada di dasar hatiku. Belum lama ini Andrian meninggalkan kami berdua. Mungkin memang itulah yang aku harapkan. Hanya ada aku dan dia.
Untunglah pemikiranku salah, dia tidak mencurigai apa yang sudah aku lakukan. Buktinya dia tak bertanya macam-macam pada tindakanku tersebut. Semoga saja dia tidak melihatnya.
Ku kira dia hanyalah seorang pengunjung toko bunga, ternyata dia yang mempunyai toko ini. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir indahnya membuatku tertegun. Apakah kau juga berpikir sepertiku? Bunga mewakili setiap rasa. Dan satu hal juga yang ku ketahui tentang wanita dengan senyum manis ini, dia tak henti-hentinya berbicara.
Setelah ku dengar kata embun, yang aku sendiri masih merasa bingung apakah kata embun itu merujuk untuk nama si wanita dengan senyum manis ataukah bukan. Tapi biarlah aku anggap dia sebagai embun. Embun untukku.  Yah kata Embun cocok dengan wanita itu. Sikapnya yang ramah, dengan senyum manis yang tak pernah hilang dari wajahnya. Dan lagi-lagi mata hitam itu masih memandangiku. Aku menunduk mencoba berpikir keras, entah mengapa aku ingin membuatnya merasa kagum kepadaku, merasa simpati kepadaku.
Iya, ibuku.jawabku penuh dengan ide, aku yakin apabila bunga ini aku belikan untuk ibu, dia pasti berpikir aku amatlah menyayangi dan menghormati seorang wanita. Aku tau sebagian besar wanita menyukai lelaki yang menghormati ibunya. Aku tertawa dalam hati. Aku yakin dia akan segera terpikat olehku.
Wah sungguh romantis sekali.jawab Embun
Dugaanku sepertinya tepat, dia terkesan dengan jawabanku.
Benarkah?tanyaku pura-pura polos.
Tentu saja, lelaki yang menyayangi ibunya tak diragukan lagi bahwa iapun akan menyayangi wanitanya.Embun menjawab seraya jalan berkeliling.
Yah.. sepertinya aku memang pribadi yang seperti itu.Senyum tak bisa kuhindari, aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Dia memilihkan beberapa tangkai bunga, dia mengambil beberapa helai daun, kemudian melangkah menuju ruang yang ku anggap itu sebagai tempat ia merangkai bunga. Disana terdapat beberapa alat yang aku tak terlalu paham itu apa, hanya gunting, pita, lem tembak saja yang ku tahu, selebihnya aku tak mengatahui itu apa.
Kemudian mataku terpaku pada satu buket bunga belum selesai dikerjakan. Namun meskipun begitu, aku harus katakan bahwa buket itu sangat indah, bunga mawar putih mendominasi, dan wangi semerbak dari buket itu dapat aku cium meskipun bunganya tak begitu dekat dengan hidungku, bunga mawar itu tersusun sangat rapi, bentuk yang diinginkan sepertinya belum terbentuk sempurna, tapi tidak menutup keindahan dari buket tersebut.
Buketnya sangat indah.ujarku jujur memuji buket yang ia kerjakan.
Emm..
Ku lihat Embun sedikit terkejut dengan kalimatku. Ia mendorong perlahan buket mawar putih tersebut menjauh dari meja kerjanya. Kemudian dia tersenyum padaku seraya berkata,
Mari kita mulai.
Hal ini sungguh mengganggu, ada apakah dengan buket tersebut, aku yakin wajahnya berubah ketika mendengar kalimatku, meskipun hanya beberapa detik, tapi raut wajah tersebut sungguh jelas berbeda, seperti ada rasa pedih. Tapi aku tak bisa mengungkapkan rasa penasaranku ini. Aku tak mungkin mengusik kehidupan pribadinya dihari pertama kami bertemu.
Ku pandangi Embun dengan seksama. Dia begitu telaten merangkaikan bunga untuk ibuku. Sepertinya dia memang sangat menikmati saat merangkainya ini. Karna senyuman itu terus bertengger menghiasi wajahnya yang teduh.
Oh tunggu, kau tau siapa aku kan?  betapa bodohnya, aku baru menyadari dia belum sekalipun terkagum-kagum bertemu denganku, apa sungguh Embun tidak mengetahui bahwa aku Jagat. Arka Jagatnata. Publik figure yang terkenal. Bukannya berniat untuk membanggakan diri, tapi hampir setiap aku pergi tanpa penyamaran orang-orang berlarian meminta berfoto denganku, berusaha menyentuhku, berseru-seru memanggil namaku. Dan lihat ini, Embun tidak melakukan apapun dari salah satunya.
Tentu saja aku tau. jawabnya dengan tersenyum lebar.  Bagaimana mungkin aku tidak mengenali seorang artis yang menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini.
Dadaku mengembang mendengar ucapannya, senyum tak bisa ku tutupi dari wajahku.
Nama Kakak, Jagat kan? Biungku, maksudnya ibuku, sangat menyukai Kakak, dia sering melihat serialmu. Kau ingat wanita yang tadi ada bersamaku. Itu Biungku.jelasnya melanjutkan. Ternyata Embun memang senang berbicara panjang lebar.
Bagaimana denganmu? Apa kau juga menontonnya?apalagi ini yang keluar dari mulutku? Tidak, tidak bisa ku kendalikan bibirku, kalimat itu meluncur begitu saja tanpa di acc oleh otakku.
Embun Nampak berpikir sesaat.
Hmm Aku bekerja dari pagi hingga sore hari, di malam hari aku sibuk mencari insipirasi. lalu Embun melanjutkan kalimatnya, Tapi Biungku terkadang menceritakan beberapa bagian yang dia anggap menyentuh hatinya. jawab Embun sambil tersenyum, mencoba tak membuatku kecewa.
Hening sesaat, Embun konsentrasi menyelesaikan rangkaiannya.
Agak sepi bukan? Embun melirikku. Aku hanya menatapnya tak mengerti.
Sebenarnya hari ini terasa kurang sempurna, radio tua peninggalan almarhum Appa sedang diperbaiki. Lanjutnya menjelaskan, Biasanya alunan lagu dari radio tersebut selalu menemani tiap kali aku merangkai bunga. Lagu yang mengiringi tak tahu mengapa selalu memberikan aku inspirasi untuk membuat rangkaian seperti apa. Dia menghela nafas, berhenti sejenak dari aktivitasnya.  Dan tentu saja karena radio tua tersebut selalu mengingatkan aku pada almarhum Appa yang amat aku kagumi, sosok pribadi yang tegas dan penyayang. Figurnya tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. dia mulai melanjutkan pekerjaannya, Tapi Baba juga tak kalah hebatnya.Embun melirikku sambil tersenyum.
Siapa itu Appa dan Baba?aku tak sepenuhnya mengerti apa yang tengah Embun bicarakan.
Hahaha apakah aku lagi-lagi bercerita tanpa prolog? tangannya masih telaten merangkai, Appa adalah ayah kandungku, sedangkan Baba adalah ayah tiriku. kemudian dia melanjutkan dengan cepat-cepat. Oh tidak-tidak, aku bahagia, jika kau berfikir ayah tiri itu kejam. Yah dalam kasusku berbeda, ayah tiriku sangat baik.
Pikiranku melayang, saat Embun berkata ayah tirinya sangat baik. Aku teringat akan kenyataan yang baru aku ketahui, ayah yang selama ini menyayangiku, mengajariku berbagai macam hal, menjagaku setiap waktu, ternyata bukan ayah kandungku. Dia ayah tiriku. Ayah tiri yang sangat baik. Sama seperti Embun.
Kau memiliki panggilan yang sangat unik kepada orang tuamu. Ku coba mengendurkan ketegangan yang aku alami sendiri.
Ya begitulah.Ucap Embun mengangkat kedua bahunya.
Ku kira ini pertemuan pertama kita. Aku tak menyangka kamu akan berbicara tentang kehidupanmu pada orang yang pertama kali kamu temui.
Hahaha kau benar, aku sudah terlalu banyak berbicara.

***
Jantungku berdegup hebat, tanganku membeku, lidahku terasa kelu. Aku melupakan hal yang selama ini berkecamuk dalam jiwa. Dan dia, Jagat, mengingatkanku kembali akan kenyataan pahit yang akan aku alami. Tak kuasa menahan berat tubuh sendiri, rasanya aku bisa terkapar kapanpun. Kenangan itu berkelebat dalam memori. Memaksa aku untuk selalu mengingat pedihnya.
Aku berusaha bersikap sewajarnya, ku alihkan buket mawar putih tersebut, jauh dari penglihatanku. Semoga dia tak menangkap gelagat anehku ini.
Oh tunggu, kau tau siapa aku kan?
Hah, aku mendesah dalam hati. Tak ku sangka dia orang yang gila pujian. Tanpa dia bertanya seperti itupun tentu saja jelas sekali sikap termanguku tadi sudah dapat menjelaskan aku tahu siapa dirinya. Betapa inginnya dia mendengar langsung pujianku. Baiklah akan aku jawab sesuai yang ku tau. Dan apalagi ini, dia bertanya apakah aku juga menonton serialnya? Ya ampun, orang ini begitu butuhnya sebuah pujian. Sungguh wajahnya bisa membohongi public, benar-benar tak diduga ternyata aslinya seperti ini.
Rangkaian bunga untuk ibu Jagat sebentar lagi akan selesai, aku mengamatinya berkali-kali, khawatir ada bagian yang tak nyaman dipandang. Setelah yakin rangkaiannya sempurna, ku ikatkan pita ungu pada bagian bawah tangkai, ku sematkan penjepit berwarna kuning dengan manik-manik ungu tua.
Aku tersenyum puas melihat rangkaian bunga di hadapanku. Berharap sang penerimapun akan puas dan mengerti rasa yang akan disampaikan bunga tersebut padanya. Akhirnya aku serahkan bunga itu pada Jagat yang berdiri di depanku. Kami hanya dipisahkan oleh meja kerjaku.
Ini, bagaimana menurutmu? tanyaku memandanginya
Kau sungguh ahli.jawabnya sambil memutar-mutar buket tersebut. Bunganya sangat indah, terima kasih.
Jagat memandangiku, dia menyunggingkan senyum mematikannya. Inilah modal dia menjadi publik figure. Sebuah kemasan yang tak memiliki keraguan. Sepertinya tak ada celah yang membiarkan kita untuk mencelanya. Secara fisik dia sangat bisa dikatakan hampir sempurna. Dengan lesung pipit dan sebuah tahi lalat yang bertengger di hidungnya yang mancung. Menjadi ciri khas darinya. Membuat wajahnya sulit dilupakan.
Tapi ku ingat juga penilaian kepribadiannya tadi saat ia bertanya padaku. Hah sungguh nilai minus untuk penunjang fisiknya yang sudah mumpuni tersebut.
***
Ku rebahkan tubuhku di kasur yang selalu ku rindukan, merelakan ototku mengendurkan ketegangan setelah seharian ku porsir bekerja. Hening. Sepi. Gelap. Kamar tidurku yang hanya seukuran 4x4m ini memang selalu nyaman. Menyuguhkan nuansa yang tentram.
Aku sengaja tidak tinggal dengan Biung dan Baba. Ceritanya aku ingin bisa hidup secara mandiri walaupun rumah mereka dan kontrakanku tak begitu terpaut jauh. Kami berbeda kota tapi jarak yang ditempuh dapat dikatakan dekat. Cuma butuh waktu sekitar 3 jam dari rumahku menuju ke kontrakan ini.
Butuh waktu setengah jam dari kontrakan menuju tokoku. Jadi aku bisa menghemat lebih banyak waktu. Kontrakan ini tak dapat dikatakan bagus dan tak bisa dimasukan kategori jelek. Menurutku ini sesuai. Itulah kata yang tepat mewakili kotrakan yang ku tinggali saat ini.
Ku rogoh ponsel di dalam tasku.  Jam sembilan malam. Dua belas jam lagi penantianku berakhir. Buket mawar putih telah tersimpan rapi di atas meja belajarku. Ku pandangi ia lekat-lekat. Berusaha mencari alasan yang tepat agar aku bisa membuangnya.
Dadaku terasa sesak. Hatiku remuk redam tak tertahan. Butiran itu kembali meluncur deras dipelupuk mata. Sakit. Sakit. Aku muak dengan kenyataan ini.
Ku buka kotak yang tersimpan dibawah ranjang. Ku liat satu persatu benda yang ada di dalamnya. Airmata menemani tiap lehaan napasku. Seakan mereka saling mengetahui alasan betapa beratnya hal ini untuk aku lakukan.
Berkali-kali helaan napas panjang terdengar, penglihatan tak terlalu jelas sebab lampu masih padam, hanya samar-samar terlihat sebuah album foto dengan ukuran sedang. Perlahan tersibak berbagai foto dengan bermacam-macam mimik muka nampak di depanku. Hanya ada satu wajah. Tentu saja wajah dia.
Dia yang memberi warna dalam hidupku. Cerah sampai pekat. Dia yang sanggup membuatku tersenyum dan menangis. Dia pula yang memberi aku alasan untuk hidup dan juga mati. Dia. Dia yang akan meninggalkanku dua belas jam lagi.
Ku bawa semua isi dalam kotak itu keluar kontrakan. Ku cari tempat sampah. Satu persatu ku pandangi sekali lagi. Dan sekali lagi pula aku mendesah ke atas langit. Bisakah? Bisakah aku membuangnya? Bisakah aku melupakannya?

***
Kemana saja kau? Kenapa teleponku tak ada satupun yang kau angkat.omel Kakak, manajerku, ketika aku baru masuk apartemenku. Aku langsung mengeluarkan ponselku dari kantong celana.
He.. Maaf aku lupa ponselku masih dalam keadaan silent.aku cuma bisa nyengir. Kak udah dari tadi nunggu yah?tanyaku basa basi.
Menurutmu?Tanya ia melotot, Sudahlah ayo cepat kita harus segera tiba di lokasi syuting.
Okay aku ganti pakai dulu ya, Kak.
Setelah berjalan empat langkah, baru ku sadari buket yang ku pegang, bingung harus aku apakan. Akupun langsung membalikkan badanku menghadap manajerku.
Kak, ini.ujarku sembari mengulurkan buket itu padanya. Anggap aja ini buat kamu, Kak.tawa tak bisa ku sembunyikan
Gat, kamu masih normalkan?Tanya dia merinding
Hahaha ya Kak gitu amat sama aku.jawabku dengan langkah semakin dipercepat
Cepet yah, mereka gak suka menunggu.ujar Kakak setengah berteriak karna aku sudah berada di dalam kamarku.

***
Syuting hari ini baru selesai, lelah sekali, aku hanya mendapat istirahat 15 menit, kugunakan kesempatan berharga itu untuk memejamkan mata, mengistirahatkan semua fungsi organ. Tak ingin menyia-nyiakan begitu saja. Harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Langit masih belum dapat dikatakan terang. Namun penggemarku sudah memenuhi lokasi syuting dari dini hari. Mereka terus menerus memanggil namaku. Aku tak bercanda, tapi semangat mereka seolah menular padaku. Lelah yang menggelayut perlahan memudar seiring teriakan dan tawa lebar dari mereka.
Sebelum aku pulang, kusempatkan diri menyapa mereka, tentu saja dengan diawasi oleh bebrapa orang pengawal, karna terkadang mereka lupa bahwa akupun manusia biasa. Dicubit, dipukul, dielu-elukan, ya tentu saja aku merasakan sakitnya hahaha, kulitku juga sama seperti mereka. Sudah beberapa kali aku berobat disebabkan kulitku yang memar-memar. Sungguh, bagaimanapun mereka aku mengerti alasannya, apa yang mereka lakukan itu wajar. Alasan kuatnya mungkin terlalu gemasmelihat orang yang dikagumi berada didekatnya.
Sepanjang perjalanan aku memejamkan mataku lagi, namun aku dikagetkan karena mobil tiba-tiba berhenti mendadak.
Ada apa Kak?tanyaku setengah sadar
Sorry, tadi ada kucing lewat, aku jadi kaget dan langsung ngerem mendadak.jelasnya
Oh yaudah gak apa-apa. Yang penting gak ada yang luka. Kita masih jauh Kak?
Lumayanlah, tidur lagi aja dulu.
Mobil kembali melaju. Secercah sinar matahari masuk melalui celah jendela yang agak terbuka. Ku singkap jendelanya, dan mengedarkan pandanganku keluar. Seperti aku mengenal tempat ini. Rasanya aku pernah melewatinya. Ah iya ini deretan toko yang kemarin aku lalui. Kebetulan aku ingin bertemu dengan Embun lagi.
Ku lirik jam ditanganku, masih jam delapan pagi. Apakah tokonya sudah buka. Aku ragu toko bunga buka di jam yang sangat pagi. Tapi taka da salahnya aku mencoba.
Kak, di depan belok kanan dong.
Loh, memang kita mau kemana dulu?
Ke toko bunga Kak, sebentar kok gak akan lama.
Aku turun dari mobil, ku minta Kakak untuk menunggu saja tak usah mengikutiku. Deretan toko itu, beberapa ada yang sudah menjalankan bisnisnya namun ada juga yang masih tutup. Ketika aku sampai di depan toko yang bertuliskan Ku Ramo, aku membaca papan dipintu. TUTUP.
Hah, aku menghela napas kecewa. Aku berharap bisa menemui Embun hari ini. Tapi ternyata takdir berkata lain.

***
Beberapa menit lagi. Entah sudah berapa bis yang melewati halte tempat aku menunggu. Aku sendiri masih bingung harus melangkahkan kaki kemana. Tak ada satupun pilihan yang meneguhkan dan menentramkan hatiku.
Toko bunga kubiarkan tutup hari ini. Hari ini merupakan hari yang special, meski bukan untuk aku tepatnya. Ku rapikan gaun yang kugunakan. Ku amati buket mawar putih yang tengah ku genggam. Sekali lagi mencoba berkaca di depan layar ponsel. Menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Ponselku bergetar, alangkah terkejutnya aku, hampir saja ponsel itu terbanting ke bawah. Biung. Begitu tulisan yang terpapang jelas di layar. Sebelum diangkat, ku pejamkan mata berharap hari ini hanyalah ilusi semata, ketika ku buka mata ternyata aku masih kanak-kanak, bermain di sekolah tempat Biungku mengajar. Semoga seperti itu. Perlahan ku buka mata. Dan hasilnya, ponsel itu masih tetap bergetar.
Halo Biung..
Halo sayang, kamu lagi apa? Perlu Biung temani?
Aku mengerti bagaimana kekhawatiran Biungku, begitupula aku, aku sendiri khawatir apa yang akan aku lakukan. Akankah aku mengikuti kemauanku, kemauan terbesar hatiku. Atau mencoba memahami situasi yang kini tak lagi berpihak disisiku.
Engga perlu Biung, Embun gak apa-apa kok.aku coba menenangkan Biung
Sayang, inget yah Biung selalu ada buat kamu. Jangan pernah ragu bahwa segalanya yang terjadi itu demi kebahagiaanmu.. Biung jeda sebentar, Biung yakin kamu tau itu.
Ada rasa berat dalam suara Biung. Aku bisa menangkapnya.
Biung, maafin Embun.tenggorokanku mulai tercekat, hidungku mulai sakit, dan kabut-kabut putih itu sedikit demi sedikit menghalangi pandanganku.
Sayang, kamu gak pernah salah apapun. Biung gak pernah nyalahin kamu. Dan kamu memang gak salah. Semuanya memang harus kaya gini. Jalan ini yang mesti kamu tempuh. Memang sudah suratan takdirnya sayang. Kamu harus kuat.suara Biung menghangatkan hatiku yang beku, kata yang patut kuuacap seakan kabur, tangis tak dapat ku bendung lagi. Sisanya aku hanya menangis tersedu ditelpon. Dan Biung dengan setia tetap mendengarkan.
Setelah aku mulai tenang, telponpun kuputus. Tanpa sadar ku lirik jam di ponsel menujukkan angka 09:10. Lagi-lagi aku mendesah berat. Kini dia sudah tak bisa aku rindukan apa lagi kuharapkan.

Langit cerah memandangiku
Mencoba menghibur
Kala rasa mendekam pilu
Mata basah hidung memerah
Menyedihkan
Terpuruk aku muak
Sumber imajiku berdiri dipelaminan
Namun apa gunanya jika yang bersanding bukan aku
Cinta itu bahagia tanpa memiliki
Nyatanya remuk redam diri tak kunjung terampuni
Aku bertekad lontarkan sumpah serapahku
Mengutukmu
Membencimu
Tapi oh tidak
Aku tak kuasa
Mampuku hanya mencintaimu
Barisan doa terlantun
Dalam sedu kupintakan bahagiamu

Tak berapa lama langit yang sedang cerah-cerahnya itu malah ikut mendukung kesedihanku. Seolah ingin berujar aku turut berduka untukmu. Iapun lalu meneteskan airmatanya ke bumi. Begitu deras. Sama seperti apa yang kulakukan beberapa saat tadi.
Halte yang tadinya kosongpun berubah menjadi penuh dan sesak. Orang-orang berlomba mencegah pakaian mereka basah. Aku terdorong menjauh dari halte. Buru-buru ku buka payung yang selalu ku bawa dalam tasku. Ini memang kebiasaanku, membawa payung kemanapun. Semua orang tentu tahu peribahasa, sedia payung sebelum hujan dan memang itulah yang selalu aku lakukan.
Aku menyukai hujan, sangat-sangat menyukainya. Karena ia mendekap dua suasana dalam satu waktu. Ketentraman dan kesedihan. Romantis ku pikir. Namun seberapapun aku menyukainya, tetap saja aku memilih untuk memakai payung saat berdiri dibawahnya.

***
Pintu itu masih tertutup, papan tulisan itupun belum berbalik menjadi BUKA, masih tetap dengan bacaan sebelumnya, TUTUP.
Kemana dia? pertanyaan yang lebih tepatnya ku ajukan pada diriku sendiri
Ku pikir sekarang bukan saat yang tepat untuk menutup bisnis. Bukan hari libur. Bukan libur nasional juga.
Setengah jam yang lalu setelah Kakak meninggalkan apartemen, ia berpesan agar aku istirahat total karena mendapatkan sehari penuh untuk libur. Sangat susah mendapatkan hari libur seharian seperti ini. Jadi dia sudah mewanti-wanti supaya aku bisa benar-benar menggunakannya dengan baik.
Namun tanpa sadar aku telah berada disini. Didepan pintu toko ini. Pintu yang tertutup. Ku pandang berapa kalipun, Embun tak kunjung datang membukakan pintunya.
Sekarang kemana lagi aku harus mencari, bahkan namanya saja aku tak tahu, apalagi alamat rumahnya, ataupun tempat-tempat yang mungkin ia kunjungi. aku berbicara sendiri
Kenapa pula aku harus mencarinya? lagi-lagi aku melakukan monolog.
Aku mencarinya hanya ingin bertemu dengannya, iya hanya itu alasannya, tidak ada yang lain. Aku mencoba meyakinkan hatiku yang mulai bertanya-tanya,
Ku pacu motorku lagi, aku tak begitu hafal jalanan disini. Sepertinya jalan ini membuat aku memutari toko Ko Ramo itu dua kali. Rute kendaraan beroda dua berbeda dengan rute kendaraan beroda empat. Sedangkan aku lebih sering dikawal manajerku dengan mobil.
Sial, sudah dua kali aku melewati jalan ini. Kenapa jalannya membuat aku bingung. ku pukul stang motorku pelan.
Bagaimana ini, sepertinya hujan akan turun. Aku harus segera sampai di apartemen sebelum Kakak tahu aku melarikan diri.
Deras hujan ini membuat laju motorku semakin melambat. Jarak pandang matapun semakin dekat. Tak baik jika aku terus memaksakan kehendakkku agar segera sampai. Ku putuskan untuk mencari tempat berteduh terlebih dahulu.
Tunggu. Sepertinya aku tak salah lihat. Benar, itu Embun. Aku melihat Embun dari kejauhan.
Wanita itu tampil berbeda dengan hari kemarin. Dia sangat anggun dengan gaun hijau muda membalut tubuhnya. Tangan kirinya mendekap sebuah buket. Bukankah itu buket yang kemarin aku lihat? Tangan kanannya memegang payung, berupaya agar tubuhnya tak basah, meski dilihat berapa kalipun, sepertinya payung itu hanya melindungi rambut dan kepalanya saja hahaha karena hujan turun sangat deras.

***
Kita bertemu lagisuara seseorang dari arah samping, mengagetkanku. Dia menggunakan helm hitam dengan jaket hitam dan celana jins hitam, semuanya hitam, sungguh kelam.
Perlahan ia buka kaca helm sehingga aku bisa melihat matanya, aku pandang ia lekat-lekat. Sepertinya dia bukan orang yang ku kenal.  Dia mencoba mendekat ke telingaku kemudian berbisik, nyaris tak terdengar.
Aku Jagat.
Lagi-lagi aku tertegun, kedua kalinya bertemu dan reaksiku selalu sama. Dia selalu muncul tanpa peringatan.
Sedang apa Kakak disini?itu kalimat yang bisa kuucapkan setelah tahu bahwa yang berdiri disampingku ternyata seorang artis.
Tentu saja berteduh. jawabnya ringan, Duh payungnya geser sini dong, jaketku basah nih.dia menarik payungku kearahnya.
Apa-apaan lelaki satu ini. Apakah otaknya konslet akibat terkena air hujan. Aku hanya bisa melongo melihat tindakannya.
BBrrr dingin sekali.
Ku pandangi dia dengan tatapan kejamku.
Apa Kakak sadar sedang berada dimana? Disini bukan hanya ada aku.
Kenapa aku harus takut, bukankah ada dirimu?dia menatapku, aku tak yakin dia tersenyum atau tidak, bibirnya tertutup helm. Kalau orang-orang itu sampai mengenaliku, bukankah kamu akan menjagaku? Kamu bisa bela diri bukan?
Aku memalingkan wajahku dari tatapannya.
Meskipun aku bisa bela diri, itu hanya untuk bela diri sendiri, bukan bela dirimu.
Jagat tertawa mendengar jawabanku yang asal itu. Aku tak niat bercanda. Apalagi dengan suasana hatiku yang sedang kacau balau. Tapi dia menangkapnya sebagai gurauan.
Kami berdiri cukup lama. Halte mulai meninggalkan beberapa orang saja. Beberapa bis telah mengangkut mereka meninggalkan halte. Hujanpun tak lagi deras, menyisakan rintikan gerimis yang masih turun dengan kecepatan yang konstan. Tanganku mulai pegal memegangi payung. Orang disampingku tak sekalipun mencoba untuk berbaik hati menawarkan bantuan.
Hei, sampai kapan Kakak akan berdiri disampingku?  Bisku sudah beberapa kali lewat. Kenapa aku jadi merasa Kakak sengaja membuatku mematung memayungimu? cecarku jengkel
Akhirnya kau sadar juga. wajahnya terlihat lega, Kau tau kakiku pegal dari tadi, dan badanku sudah menggigil kedinginan, menanti kapan kau akan tersadar dari lamunanmu yang panjang itu. Sekarang mari kita pergi. Dia kemudian menarik lenganku, memaksa langkahku mengiringi langkahnya. Ia membuka jaketnya memasangkannya di pundakku. Perlahan memakaikan helm di kepalaku. Memukulnya. Lalu tersenyum.
Ayo naik.aku belum mengerti apa maksudnya, udah cepet naik jangan cuma bengong.dia sekali lagi menarik lenganku, membiarkan aku duduk dijok belakang motornya.
Rintik-rintik air hujan bisa kurasakan menembus gaunku, ku peluk erat buket mawar yang sedari tadi ku bawa. Meski tak berniat menyerahkannya pada orang yang dimaksud, tetap saja bunga ini tak memiliki salah apapun. Aku tak boleh melukainya.
Jagat memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, udara dingin menusuk tulang, sedangkan pikiranku melayang. Mungkin orang itu sekarang sedang bersalaman dengan beribu tamu yang datang. Menebarkan senyum jutaan kali. Atau mungkin ia sedang menyuapi orang yang disampingnya, berpose untuk foto kenangan yang nantinya akan mereka pajang di dinding ruang utama.
Pikiranku sibuk mondar mandir menyakiti hatiku sendiri. Airmata perlahan tumpah ruah. Bergabung dan bersekutu dengan air hujan. Mereka sama-sama bersekongkol membuat pipiku basah. Dan kini aku menangis membisu dalam naungan hujan.

***
Meski tak bersuara, aku yakin Embun sedang menangis di balik punggungku. Tapi itu lebih baik daripada saat di halte tadi. Termenung lama, seperti sedang meruntuki diri sendiri tapi di dalam hati. Membuat aku gusar melihatnya.
Lebih baik seperti ini. Ia mengeluarkan beban yang ditanggungnya. Aku memang tak bisa bertanya banyak. Tapi aku bisa lihat dengan jelas bahwa Embun sedang menghadapi masalah yang sangat berat. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan.
Menemaninya, berada di dekatnya, dan berusaha membuat ia mengeluarkan segala bebannya kemudian melupakan dan melepaskan beban tersebut.
Sepertinya Embun sudah mulai tenang saat ini.
Mau aku ajak ke tempat kamu bisa berteriak dengan puas? tanyaku
Kenapa aku harus berteriak?
Tentu saja untuk melapangkan dadamu.
Tak perlu, Kakak hanya perlu mengantarkanku pulang.
Aku tahu hati kecilnya tak ingin berkata seperti itu, maka dengan itu aku tetap membawanya menuju tempat yang ku tawarkan tadi padanya. Sebuah tempat karaoke.
Ngapain kita kesini? Tanya Embun setelah sampai di tenpatnya.
Tentu saja untuk berteriak.jawabku meyakinkan. Kulihat Embun melihatku dengan tatapan tak percaya.
Ku kira Kakak akan membawaku ke taman hiburan.jelasnya polos
Oh nona kamu lupa aku seorang artis? Pergi ke taman hiburan sama saja kau mengantarku ke sarang singa.
Embun tersenyum, akhirnya aku bisa melihat senyum manisnya lagi. Ah sungguh melegakan. Entah dari kapan aku menantikan pandangan yang seperti ini.
Kenapa Kakak menatapku seperti itu? lagi-lagi wajah juteknya yang keluar.
Hei, apa untuk menatapmu pun aku perlu minta ijin?Aku berjalan masuk meninggalkannya.
Bukan itu maksudku. Kakak pasti tau apa maksud ucapanku.Embun berusaha menyamai setiap langkahku.
Tapi aku gak tau dan gak berniat untuk tau apa maksud dari ucapanmu.
Kami berjalan menuju medium room, meskipun kami hanya berdua, aku tak ingin Embun menganggapku sebagai lelaki yang aneh. Ruangan itu kini gelap, hanya diterangi oleh kelap kelip lampu yang saling bergantian menyala.
Embun mulai mengotak ngatik layar di depannya. Ia memilih-milih lagu yang ia kehendaki. Aku hanya memandangi dirinya dari samping. Melihat ia begitu seriusnya memilih lagu.
Tapi aku gak pinter nyanyi. keluhnya tiba-tiba
Kamu kesini bukan untuk audisi, lagipula aku tak akan menilai suaramu, kamu tak akan sanggup membayarku sebagai juri.Lagi-lagi Embun tersenyum mendengar ucapanku.
Baiklah, mari kita berkaraoke. jawabnya semangat 45.
Lagu dilayar perlahan muncul, judulnya mulai terbaca. Bukannya sudah jelas tadi aku katakan padanya untuk berteriak. Tapi mengapa ia malah memilih lagu mellow dengan nada menyenyakkan tersebut.
Heh, ku bilang kita akan berteriak, bukan tertidur.ucap ku sedikit menyentak
Tapi aku suka lagu ini.jelasnya lembut
Tapi aku gak suka.ujarku tajam
Tapi aku yang nyanyi, mulut-mulut aku
Aku yang dengerin, telinga berhargaku tak cocok dengan lagu pilihanmu
Aku ingin nyanyiin lagu yang aku suka.
Inget, aku yang bayar!
Kakak niat ngehibur aku gak sih?ku lihat Embun mulai menjawab lemas, aku jadi ingin tertawa melihatnya.
Membantu bukan berarti melakukannya sesuai keinginan orang yang dibantu, nona manis. Hahaha lagian dengan lagu yang kamu pilih itu aku yakin bukannya melupakan tapi kamu malah semakin mengingat hal yang sedang tak ingin kamu ingat itu.
Embun agak cemberut mendengar komentarku, kemudian dia mengotak-ngatik layar di depannya lagi. Akhirnya iapun berhasil menemukan lagu yang bisa membuatnya berteriak. Aku yakin, jika ini memang sebuah acara audisi, dia akan langsung gagal begitu suaranya keluar. Suaranya membuat gendang telingaku sakit. Tapi itu tak seberapa sakitnya dibanding tadi saat aku menemaninya di halte.
Embun berteriak-teriak tak karuan. Meski ia tetep duduk dengan manis. Tapi suaranya melompat-lompat kesana kemari. Membuatku tertawa terbahak-bahak setiap ku liat wajahnya yang begitu serius berusaha menyanyikan lagu agar terdengar benar.

***

Suaraku hampir habis, tenggorokanku mengering. Air yang berada di depanku langsung ku habiskan dalam satu tegukan. Walaupun lelah tapi harus ku akui aku menikmatinya. Dan ingatan tentang dia yang meninggalkanku malah terlupakan.
Waktu untuk berkaraoke tinggal lima belas menit lagi. Ku sandarkan punggungku kebelakang. Pegal. Ku lirik Jagat yang berada di sampingku. Aku terkejut. Ternyata dia sedang tertidur. Dari kapan dia mulai tertidur? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus membangunkannya?
Ku putuskan untuk membiarkannya tertidur selama waktu karaoke belum habis. Dengan gerakan yang tak mencurigakan ku coba mengamati wajahnya. Semakin dekat kau melihatnya, ku yakin semua orang akan masuk kedalam dunia khayal. Mengkhayal untuk bisa selalu memandang dekat wajah seperti itu setiap harinya.
Ku pikir dia tak begitu buruk. Walaupun di hari pertama pertemuan kami, dia amat terlihat gila pujian, tapi hari ini dia menampilkan sisi dirinya yang lain. Sepertinya dia berusaha menghiburku. Aku menghargai sikapnya yang tak menuntut penjelasan dariku. Jarang menemukan orang yang seperti itu.
Ketika aku masih memandanginya, orang dihadapanku itu membuka mata.
Udah puas liatnya? Kemudian dia tersenyum. Tadinya aku mau ngasih waktu agak lama, tapi posisinya buat badanku pegal. Terpaksa aku harus bangun. Jagat tersenyum lagi.
Aku salah tingkah. Sepertinya otak Jagat masih konslet. Cepat-cepat aku menjauhinya. Bertingkah seolah tak ada yang terjadi.
Hari sudah hampir gelap saat kami tiba di depan kontrakan, sebelum pulang tadi, Jagat mengajakku untuk makan terlebih dahulu. Sekarang aku begitu canggung mengucapkan terima kasih kepada Jagat.
Terima kasih untuk hari ini.ucapku ragu
Jagat menunjuk sesuatu, Kalo kamu emang ngerasa berterima kasih, kamu boleh ngasihin buket itu buat aku.
Aku kaget setengah mati. Ada apa dengan orang ini. Sikap dan sifatnya benar-benar tak dapat aku perkirakan. Dia selalu melakukan dan mengucapkan apapun sesuka hatinya.
Aku tau buket itu pasti sangat berharga, dari tadi kamu memeluknya erat. Tapi bukannya kamu bilang setiap bunga mewakili setiap rasa? Aku yakin buket itu juga memiliki satu rasa yang sama dengan hatimu. Tapi rasa itu tak akan pernah tersampaikan kalo kamu tidak memberikannya pada siapapun bukan? dia masih menatapku, Aku siap menerimanya. lanjut ia dengan senyum andalannya.
Oh Tuhan, apakah dia tahu bunga yang ku peluk ini mewakili rasa apa? Sebuah mawar putih mewakili rasa kesungguhan, kemurnian, ketulusan, kesucian, cinta sejati. Bagaimana mungkin aku memberikan bunga ini padanya. Dan apa katanya tadi. Aku siap menerimanya? Hah aku ingin tertawa. Ingin rasanya aku menjawab, tapi aku yang tak siap memberikannya. Namun tak mungkin aku mengatakan hal itu setelah apa yang telah dia lakukan hari ini untukku.
Maafkan aku, tapi rasa yang ingin kusampaikan ini bukan untukmu. Percuma apabila rasanya tersampaikan tapi bukan pada orang yang diinginkan. aku terdiam sesaat,  Lain kali aku akan mentraktir Kakak, membalas segala kebaikan Kakak secepatnya.

***

"Kamu bilang percuma?" Aku menatapnya tajam, "Gimana kalo orang yang diinginkan itu terkalahkan oleh orang yang ditakdirkan?"
Entah mengapa aku menjadi kesal mendengar perkataan Embun barusan.
"Yaudah lah lupain aja, gak perlu juga kamu balas apa yang udah aku lakuin hari ini, kamu belum tentu bisa balesnya."
Ku tinggalkan Embun termenung sendiri dibelakang. Aku tak ingin peduli lagi dengan apapun yang menyangkut tentangnya. Ku banting pintu apartemenku, jengkel sekali rasanya. Dia membuat usahaku menjadi sia-sia.
"Apalagi sekarang alasannya?" Ternyata Kakak sudah berada di dalam, hanya aku dan dia yang memiliki kunci apartemenku.
"Kak, udah lama?" Aku berjalan menuju sofa dan langsung melemparkan badanku diatasnya.
"Kamu kenapa sih Gat, aku kan udah bilang, kamu tuh istirahat, bukan keluyuran. Tubuhmu itu butuh berdiam."
"Iya Kak kamu bener, harusnya dia sadar aku orang yang sibuk, sengaja aku meluangkan waktu, bukannya berterima kasih, malah membuatku kesal."
"Jagat, kamu tuh ngomong apa sih? Dia siapa? Udah deh jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sama ibumu menelpon berkali-kali tak pernah sekalipun kau angkat. Kau membuat darah tinggiku kumat."
"Sama banget, darah tinggiku pun sepertinya kumat, dia membuatku emosi, dia membuat segalanya sia-sia." Aku sedang menggebu-gebu, "Kamu tau Kak, aku sampe tertidur tadi, badanku lelah dibuatnya, dan sekarang perasaanku pun menjadi lelah." Aku membiarkan Kakak menatapku tak mengerti, "Aku betul-betul menyesal tadi sempat berpikir untuk membantunya. Wajahnya begitu murung ketika ku lihat dari kejauhan, membuat aku ingin menghiburnya. Arrgghhh betapa bodohnya aku." Ucapku seraya mengacak2 rambutku sendiri, uuppss apa aku telah berbicara terlalu banyak. Manajerku menatap dengan amat serius, dia mendekatkan wajahnya pada wajahku.
"Kamu jatuh cinta?" Tanya Kakak tiba-tiba
"Tentu saja tidak!" Batahku cepat sambil menjauhkan wajahnya dari hadapanku
"Ah kamu mencoba menipuku? Tidak tidak, kamu tidak bisa membohongi orang yang telah bertahun-tahun disampingmu." Dia menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajahku. Menggodaku.
"Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada orang yang baru beberapa kali kamu temui?" Aku mencoba mencari teori yang paling mendekati
"Nah itulah yang orang sebut sebagai cinta pada pandangan pertama." Ujarnya meyakinkan
"Hah, sepertinya semua naskah serialku terlalu banyak kamu baca Kak."
"Siapa gadis itu?" Dia mengangkat alisnya keatas sambil tersenyum
"Tak ada seorang gadis, dia hanyalah orang lain." Jawabku masih sedikit kesal.
"Aku cuma bisa mengingatkan, hati-hati saat kamu bertemu dengannya. Banyak wartawan yang menanti berita tentangmu."
"Aku tak pernah bilang aku akan menemuinya lagi."
"Yah siapa tau bukannya kamu yang ingin tapi gadis itu yang berharap."
"Benar, Kakak memang terlalu banyak membaca naskah serialku. Sudahlah aku lapar."
Selesai mandi, ku tatap seluruh sudut kamarku, mencari kemana secarik kertas yang dulu pernah ku sembunyikan, aku lupa telah menyelipkannya dimana. Kertas yang diberikan oleh almarhumah nenekku sebelum ia meninggal dua minggu yang lalu. Alamat ayah kandungku. Langkahku masih terasa ragu untuk benar-benar mencari kertas tersebut. Baru mata yang telah ku ijinkan untuk mencarinya, tidak dengan anggota tubuhku yang lain. Belum saatnya aku memaafkan orang itu.
Memaafkan. Tiba-tiba satu kata itu malah membuatku teringat dengan Embun.
"Sial, kenapa aku harus mengingat gadis bodoh itu lagi." Gerutuku pada diriku sendiri
"Dia tak tau dimana posisinya, dia tak menyadari tengah berhadapan dengan siapa. Kita lihat saja siapa yang lebih berharap untuk bertemu lagi." Ucapku masih jengkel.
Cuaca hari ini berubah-ubah dengan dratis, dia sungguh mempengaruhi moodku. Tadi pagi aku berharap bertemu dengannya. Sekarang aku malah menyesali perbuatanku hari ini. Hidup dan hati ternyata memiliki persamaan, sama-sama sulit diprediksi.

***
Buket mawar putih itu kembali aku simpan di atas meja belajarku. Kupandangi sesaat. Lalu mendesah dengan berat. Hari ini sungguh panjang terasa.
Kesegaran menyelimuti tubuhku, aku telah membersihkan diri kemudian kurebahkan tubuhku diatas kasur. Seperti biasa aku mengecek ponselku terlebih dahulu. Ada beberapa pesan dari Biung. Ku buka satu per satu pesan di ponsel sembari mencari remote televisi yang td pagi lupa ku lempar kemana. Setelah menemukannya aku langsung menyalakan televisi.
"Sungguh kebetulan sekali, aku langsung disuguhkan serial yang memuat wajahmu." Gerutuku pada benda kotak di depan mata.
"Hebat sekali aktingmu, kau menangis? Hahahaha ku kira kau hanya bisa berteriak." Aku mengomentari setiap adegan yang dia perankan.
Kulirik ponsel ku kembali, semua pesan Biung hanya bertanya bagaimana keadaanku. Biung mungkin akan senang jika tahu anaknya pergi berdua dengan seorang artis.
Aku mulai mengetikkan pesan pada Biung,
Embun lagi nnton serial favorit Biung nih.
Ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk, dari Biung.
Oh iya Biung lupa, kemarin yang datang ke tokomu itu si Jagat kan, Arka Jagatnata, artis terkenal itu?
Dengan membacanya saja aku sudah bisa membayangkan bagaimana Biungku itu sedang excitednya.
Ia dia Jagat Biung. Ah Biung jangan terlalu ngefans sama dia. Dia gak sebagus di televisi.
 Kukirimkan balasanku.
Iya memang, aslinya jauh lebih bagus, Biung saja sampai terpesona melihatnya.
 Hahaha Biung tau maksudku seperti apa tadi. Eh Biung, kalo anakmu ini berkencan dengan seorang Arka Jagatnata bagaimana menurut Biung? Hahahaha geli sekali membayangkannya.
Ah kamu bermimpi terlalu jauh. Tapi jika memang itu terjadi bagaimana yah? Hmm. Biung memang menyukainya. Tapi untuk jadi menantu sebaiknya tidak.
Aku kaget membaca balasan dari Biung, memang sih bukan berarti aku berniat untuk menikah dengan Jagat, tapi aku sama sekali tidak menyangka Biung mempunyai penilaian seperti itu.
Memang kenapa Biung?
Nurani seorang ibu hehehe
Percakapan kami usai sampai disitu. Toh aku juga tak begitu mau mempermasalahkannya. Jagat bukan siapa-siapa bagiku.
Sungguh, buket bunga mawar itu menganggu pandanganku. Seharusnya tadi aku berikan saja pada Jagat. Lagipula dia tidak mengetahui apa arti dari bunganya. Dia juga tak mengerti rasa apa yang hendak aku sampaikan. Dia juga tak mengetahui siapa yang akan menerimanya. Heh sepertinya tadi aku sudah berlebih kepadanya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar